Mengenal Fenomena ‘Polyworking’, Apakah Mampu Menjadi Jalan Keluar Di Tengah Modernitas?
Kita semua mungkin sudah terbiasa dengan rentan durasi kerja full-time, atau sering disebut dengan 9-5. Namun dengan transformasi dunia kerja yang semakin fleksibel, sekaligus rangkaian kebutuhan hidup yang wajib dipenuhi maka kini satu pekerjaan saja dianggap tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Berdasarkan catatan BPS, menuju akhir tahun 2025 perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 5.04%. Meski demikian data tersebut tidaklah representatif terhadap kebutuhan masyarakat, sekaligus pertumbuhan upah minimum masing-masing daerah.
Lantas, kini memiliki satu pekerjaan saja tidaklah dirasa cukup, dan ekosistem ‘Polyworking’ pun kini menjadi solusi Generasi Muda. Polyworking sendiri pada dasarnya merupakan pola dimana seseorang melakukan beberapa pekerjaan utama dalam waktu bersamaan atau setelah selesai jam kerja full time.
Bagi beberapa individu, fenomena Polyworking ini dinilai sebagai strategi cerdas di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini. Berdasarkan survey global yang dilakukan oleh lembaga People at Work (PAW) pada tahun 2025 lalu, sebanyak 18% populasi dunia memiliki dua pekerjaan dan 5% seterusnya memiliki lebih dari tiga pekerjaan.
Dengan fokus pada penyelesaian beberapa pekerjaan antar perusahaan sekaligus, Polyworking tidak hanya membuka peluang networking yang besar namun juga membuka kesempatan untuk mempertajam skillset kita dalam jangka panjang. Selebihnya dengan extra-effort yang kita kerahkan melalui Polyworking, tentunya penghasilan akan mencapai taraf yang lebih memuaskan.
Walaupun Polyworking mampu menjadi jawaban yang menggiurkan bagi kita, namun dalam budaya Polyworking justru dapat menimbulkan beberapa dampak, seperti;
-
Burnout
Dalam jangka panjang, meskipun budaya Polyworking mampu menghasilkan pendapatan yang lebih besar, namun kita sendiri justru rawan terjerumus dalam jebakan kelelahan baik mental maupun fisik.
-
Mengecohkan Fokus
Dengan mengerjakan beberapa hal sekaligus dalam waktu yang sama, otomatis kita tidak memberikan otak ruang untuk beristirahat. Secara tidak langsung meskipun kita terlihat dalam kondisi prima, namun fokus kita tidak akan bertempat dalam waktu dan lokasi kita berada atau singkatnya mindfulness akan menurun
-
Resiko Karir dan Legalitas Kerja
Mengerjakan beberapa pekerjaan memang memberikan kita penghasilan tambahan, namun sebagai individu yang bertanggungjawab kita juga wajib mempertahankan integritas dan profesionalitas sesuai waktu dan tempat. Melakukan pekerjaan sampingan di jam kerja utama dapat dianggap melanggar kontrak. Jika pekerjaan utama sampai terbengkalai, sehingga risiko pemecatan menjadi salah satu konsekuensinya.
Mengacu pada permasalahan Polyworking, dalam segmen dosen bicara salah satu dosen Program Studi Manajemen Universitas Dian Nusantara (UNDIRA), Ibu Fathihani, S.E., M.M., menjelaskan bahwa manajemen diri merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki baik dalam pekerjaan atau kehidupan pribadi.
“Keberhasilan tidak hanya dinilai dari apa yang dicapai atau seberapa cepat kita mencapainya, tetapi juga dari kemampuan kita dalam mengelola diri secara berkelanjutan di tengah perubahan yang konstan. Selebihnya bagaimana kita beradaptasi akan menentukan konsistensi diri akan mencerminkan identitas kita sebagai pribadi yang tidak hanya memiliki idealisme tinggi namun juga berintegritas dan profesional dimanapun kita berada.”
‘Polyworking’: Ketika 1 pekerjaan tak lagi cukup - The Conversation Id
MULTIPLE INCOMES, NOT ENOUGH MONEY - People at Work (Infografis)
Sumber Thumbnail:
(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Lainnya
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Cibubur
Jln. Rawa Dolar 65
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432