Budaya Organisasi, Apakah Lebih Dari Sekadar Formalitas? dan Mengapa Harus Diterapkan?
Budaya, sebuah konsep atau gagasan yang bertanggung jawab atas terjadinya tindakan dan juga terciptanya identitas, baik dalam ruang lingkup individual maupun kolektif. Sebagai pencipta identitas, budaya juga dapat dilihat sebagai sebuah legacy atau hal yang diwariskan, yang artinya budaya itu sendiri bukan hanya sekadar simbolisme semata, melainkan terus bergerak seiring legacy yang masih terus diwariskan.
Dalam dunia pendidikan, dan terutamanya juga pekerjaan, budaya menjadi tatanan yang terukir dan diterapkan secara tegas untuk mengarahkan dan menjaga tata kelola organisasi. Hal ini dikenal sebagai budaya organisasi. Menurut Sarpin (1995), budaya organisasi merupakan sistem nilai, kepercayaan, dan kebiasaan yang diterapkan untuk menghasilkan norma dan tata kelola organisasi yang optimal.
Budaya organisasi sendiri pada dasarnya berfungsi untuk mengokohkan etos kerja dan keorganisasian yang berintegritas dan profesional, agar setiap individu memiliki pegangan yang seragam dalam bertugas, bertindak, dan bahkan dalam mengambil keputusan. Dengan kata lain, budaya organisasi berprinsip layaknya kompas: mengatur dan mengawasi setiap langkah agar semua kolektif dapat berjalan bersama menuju tujuan yang terarah.
Di samping perannya dalam menumbuhkan dan memupuk keselarasan berpikir dan bertindak, kehadiran budaya organisasi juga mampu membangun efektivitas dan efisiensi kerja bersahaja. Budaya organisasi yang sehat tidak hanya menampilkan kekuatan manajerial yang kuat, tetapi juga menampilkan keterampilan komunikasi interpersonal multiperspektif. Hal ini karena budaya organisasi berpengaruh secara progresif terhadap terbentuknya lingkungan kerja positif dan suportif.
Ibarat roda gigi yang bertugas menjaga ritme dan mengoptimalkan kerja mesin, budaya organisasi harus mampu menyelaraskan semua pihak, melalui komunikasi. Pola komunikasi yang baik dapat membentuk budaya organisasi yang sehat melalui pemahaman dua arah, dan hal ini secara otomatis akan membangun kepercayaan, rasa saling menghormati, boundaries yang sehat, ruang personalisasi, dan juga ekosistem kerja suportif. Alhasil, setiap anggota tidak hanya merasa aman, tetapi juga memiliki ruang tentram dalam berkegiatan. Komunikasi yang sehat di sini juga bukan berarti kita hanya mengomunikasikan aturan atau norma semata, tetapi juga bagaimana mengatur politik relasional yang bersahaja.
Sebagai contoh paling sederhana, bayangkan sebuah tim kerja yang memiliki aturan resmi: 'Jam kerja berakhir pukul 17.00.' Namun, secara tidak tertulis, muncul budaya di mana anggota yang pulang tepat jam 5 sore dianggap tidak loyal atau tidak memiliki komitmen. Karyawan akhirnya bertahan hingga malam bukan karena produktif, melainkan karena rasa takut dinilai buruk.
Di ruang seperti itu, budaya organisasi tidak lagi terasa sebagai beban yang dipaksakan, melainkan sebagai kesepakatan yang dijaga bersama, dan kepatuhan lahir dari pemahaman, bukan dari rasa takut. Sebab komunikasi dalam keorganisasian yang kokoh bukanlah selalu yang menghasilkan aturan solid, melainkan yang dapat dipahami dan dijalankan dengan tulus oleh semua pihak yang terlibat. Being a good compass for everyone also means creating good terms and communication for everyone from every communicative angle, even if it's tiring, kawan UNDIRA.
Sumber Referensi:
Budaya Organisasi: Karakteristiknya & Contoh Budaya Organisasi
Sari, M. (2021). Peran komunikasi dalam budaya organisasi. Jurnal Ilmiah Teknik Informatika dan Komunikasi, 1(2), 1–9.
(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Kranggan
Jln. Raya Kranggan, No.6,
Jatiraden, Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432