Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Sinergis, Resilien dan Berdaya Bagi Bangsa: Hari Bank Indonesia
Menjelang tanggal 5 Juli mendatang, salah satu hari bersejarah dalam perjalanan ekonomi bangsa akan kembali diperingati, yaitu Hari Bank Indonesia.
Sejarah Hari Bank Indonesia bermuara ketika pemerintah Republik Indonesia menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang yang melahirkan Bank Negara Indonesia (BNI). Di tengah situasi pascakemerdekaan yang serba genting, Presiden Soekarno menghadirkan BNI sebagai bank sirkulasi pertama milik pemerintah, bertugas mengedarkan Oeang Republik Indonesia (ORI), mata uang pertama bangsa ini.
Perjalanan itu berlanjut ketika kedaulatan penuh diakui Belanda pada akhir 1949, dan pemerintah menasionalisasi De Javasche Bank melalui Undang-Undang Pokok Bank Indonesia pada 1 Juli 1953, yang kemudian secara resmi menjadikan Bank Indonesia sebagai bank sentral.
Seiring waktu, sejumlah bank milik negara turut tumbuh menopang pembangunan nasional, mulai dari Bank Exim, BBD, BRI, BDN, hingga Bapindo, yang masing-masing mengemban peran spesifik dalam pembiayaan sektor ekonomi dan turut ambil bagian dalam upaya merestrukturisasi utang negara pada masa-masa awal kemerdekaan yang penuh keterbatasan.
Peran strategis ini teruji berkali-kali, termasuk dalam menghadapi krisis moneter 1997–1998 yang mengguncang fondasi ekonomi nasional. Pelajaran dari krisis tersebut turut membentuk cara Bank Indonesia merespons tekanan ekonomi di masa kini.
Beralih ke era modern saat ini, sektor perbankan di Indonesia di bawah kepemimpinan Bank Indonesia bukan sekadar pelengkap administratif dalam roda perekonomian. Bank Indonesia adalah garda terdepan yang menjaga kedaulatan moneter bangsa, mulai dari merumuskan kebijakan moneter, menjaga stabilitas sistem keuangan, hingga bersinergi dengan pemerintah dalam pengelolaan kebijakan fiskal.
Sepanjang tahun 2026, pelemahan rupiah dan kemacetan arus kas yang dilengkapi dengan ketidakpastian geopolitik global menempatkan rupiah pada nilai tukar sebesar Rp18.100 per dolar AS pada awal Juni lalu.
Menanggapi kondisi ini, Bank Indonesia tidak tinggal diam. Keputusan penaikan suku bunga BI-Rate dan pembatasan pembelian kurs asing secara bertahap secara berangsur lantas menjadi langkah strategis dalam memperkuat intervensi di pasar valuta asing. Selebihnya, penguatan pasar melawan transaksi spot, DNDF, dan NDF luar negeri, sekaligus mendorong instrumen moneter seperti SRBI agar tetap menarik bagi investor dan menstabilkan inflasi rupiah dan harga kebutuhan pokok dalam negeri.
Meski pelemahan rupiah tahun ini disebut sebagai salah satu yang terdalam dalam sejarah modern, langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa Bank Indonesia terus berupaya menjaga kepercayaan pasar tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan ekonomi
Momentum Hari Bank Indonesia tahun ini sepatutnya menjadi ruang refleksi bersama. Bukan hanya bagi insan Bank Indonesia, tetapi juga bagi seluruh elemen bangsa yang turut merasakan dampak dari setiap kebijakan moneter yang diambil. Sejarah telah membuktikan bahwa stabilitas ekonomi tidak pernah lahir dari kerja satu pihak semata, melainkan dari sinergi yang berkelanjutan antara otoritas moneter, pemerintah, dan masyarakat.
Dari semangat itulah kita dapat memaknai kembali makna peringatan Hari Bank Indonesia ke-73 tahun ini: Indonesia berbangga, BI bermakna - sebuah pengingat bahwa di balik kebijakan yang mungkin tidak selalu dapat dimengerti dengan baik, terdapat komitmen jangka panjang untuk menjaga kedaulatan ekonomi bangsa tetap tegak di tengah gejolak zaman.
Sumber Referensi:
HUT ke-73 BI, Indonesia Bangga, BI Bermakna - RRI Indonesia
Hasil Visitasi Museum Bank Indonesia - Jakarta Pusat
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Lainnya
Membaca Makna di Balik Lirik “Die With A Smile”: Mahasiswa Sastra Inggris UNDIRA Analisis Semiotika Roland Barthes
Read more
Agitasi dan Pembuatan Konten: Yuk Kenali Keduanya Melalui Kacamata Profesional Image
Read more
Menjadi Guru Besar Pertama Universitas Dian Nusantara, Prof. Dr. Ari Purwanti, S.E., M.Ak. Turut Berwacana
Read more
Yayasan Dian Asra
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Cibubur
Jln. Rawa Dolar 65
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432
Kampus Cibubur Kranggan Raya
Jln. Raya Kranggan, No.6, RT 006/ RW 008
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432