html hit counter Membaca Makna di Balik Lirik “Die With A Smile”: Mahasiswa Sastra Inggris UNDIRA Analisis Semiotika Roland Barthes - Universitas Dian Nusantara

Membaca Makna di Balik Lirik “Die With A Smile”: Mahasiswa Sastra Inggris UNDIRA Analisis Semiotika Roland Barthes

Dilihat : 27
11 Mei 2026

Dalam berbagai karya, terdapat makna di balik makna. Hal inilah yang menjadi fokus mayoritas penggiat film atau lagu dari masa ke masa. Sebuah karya (baik itu digital maupun fisik dalam era apa pun) tidak hanya merupakan sarana entertainment, melainkan dapat mengungkapkan kritik atau fenomena yang terjadi di sekeliling kita.

Di antara berbagai karya yang ada, lagu merupakan salah satu karya dengan highlight terpopuler sepanjang masa. Lagu pada umumnya mengekspresikan dan memiliki relasi yang kuat terhadap emosi dan karakteristik manusia, sekaligus mengandung aspirasi kompleks terkait lika-liku kehidupan—that is the power of music

Selebihnya, berbeda dengan karya visual yang membutuhkan waktu untuk diterjemahkan oleh publik, lagu cenderung memiliki lirik yang lebih mudah diterima dan dipahami oleh mayoritas demografi atau, singkatnya, sangat relatable. Menurut beberapa studi, keberadaan lirik lagu yang turut mengekspresikan emosi secara tekstual dan juga memiliki elemen simbolisme dapat dikategorikan sebagai bentuk puisi. 

Beberapa penjelasan di atas tersebutlah yang mendorong salah satu mahasiswi Program Studi Sastra Inggris untuk melakukan riset terhadap lirik salah satu lagu karangan Lady Gaga dan Bruno Mars bertajuk “Die With A Smile”. 

Menurut riset yang dimuat oleh salah satu sastrawan Indonesia, Rachmat Djoko Pradopo, lirik lagu berfungsi sebagai deretan simbolisme terstruktur yang bermakna. Dalam ilmu bahasa dan analisis kebudayaan, kita dapat menjumpai salah satu keilmuan, yakni semiotika. Semiotika pada dasarnya merupakan pembelajaran yang mendalami keterkaitan antara tanda (sign) dan proses komunikasi makna—baik dalam bentuk visual maupun tekstual. 

Semiotika sendiri bermuara dari studi filosofi Yunani, yang kemudian diperkuat oleh kajian Ferdinand de Saussure. Melalui studi lanjutnya, Saussure mengajukan bahwa untuk mempermudah studi mengenai makna dari objek atau fenomena tertentu, kita wajib memperhatikan 3 aspek penilaian; Sign (tanda), Signifier (penanda), dan Signified (petanda). 

Ketiga aspek tersebut merepresentasikan bagaimana relasi antara kata mampu membentuk makna berkelanjutan bagi objek yang dapat kita dengar atau pandang. Sebagai contoh; Laptop Gaming memiliki penanda; tebal serta memiliki aksesori lampu customizable, lalu petanda yang menjelaskan persepsi mental kita terhadap Laptop Gaming, seperti; Berperforma tinggi dan berdaya tahan tinggi. 

Dalam kajian sastra kali ini, mahasiswa berhasil mengungkapkan beberapa poin menarik sekaligus memberikan pemahaman tambahan mengenai semiotika melalui lirik lagu Die With A Smile. Pertama, berdasarkan acuan teori semiotika Ronald Barthes seputar semiotika, diungkapkan bahwa dalam semiotika setiap objek atau subjek selalu akan ada ‘importance’ atau makna terpenting yang dapat menjadi kunci pemahaman kita. 

Kedua, dari sebanyak 18 data lirik lagu Die With A Smile, terdapat sederet pemaknaan terkait otentisitas sejarah, filosofi, budaya, dan sosial masyarakat, baik dalam bentuk tersirat maupun tersurat. Keberadaan ‘Importance’ ini juga dinilai sebagai justifikasi dan pembawa kedekatan psikologis sesuai mitos masing-masing individu.

Secara denotatif, lagu Die With A Smile menggambarkan kompleksitas emosional manusia yang ingin meninggalkan dunia tanpa penyesalan. Pada level konotatif, harapan yang ditampilkan dalam lirik justru menyembunyikan emosi lain seperti kesedihan, ketakutan, kemarahan, dan rasa sakit, baik secara duniawi maupun spiritual. 

Terakhir, secara semiotik, lagu ini merepresentasikan kritik terhadap konstruksi stigma sosial mengenai aspek moralitas manusia modern, bahwasanya di balik forced positivism yang terlihat, terdapat perasaan yang tidak pernah benar-benar tersampaikan, menciptakan mekanisme tarik-ulur antara senyuman, harapan, dan penderitaan batin manusia. Lantas menjelaskan dualitas dan stressful life yang disebabkan oleh tuntutan modernitas terhadap aspek kemanusiaan. 

Universitas Dian Nusantara melalui Program Studi English Literature membuktikan bahwa sastra bukan sekadar mempelajari bahasa atau karya tulis, melainkan menjadi jendela untuk memahami manusia, budaya, dan realitas sosial secara lebih mendalam. Sastra Inggris UNDIRA hadir sebagai ruang akademik yang mendorong mahasiswa berpikir kritis, interpretatif, dan humanis dalam membaca dunia melalui perspektif bahasa dan sastra.

Sumber Referensi:

Wulandari, Y. (2025). Roland Barthes’ semiotic analysis in the song lyrics “Die With A Smile” by Lady Gaga and Bruno Mars (Skripsi, Universitas Dian Nusantara). Faculty of Business and Social Sciences, English Literature.

(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)

Press Contact :

Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara

humas@undira.ac.id

Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id 

Lainnya

Yayasan Dian Asra
Kampus Tanjung Duren

Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1

Grogol, Jakarta Barat. 11470

Kampus Green Ville

JIn. Mangga XIV No. 3

Kampus Cibubur

Jln. Rawa Dolar 65

Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432

Kampus Cibubur Kranggan Raya

Jln. Raya Kranggan, No.6, RT 006/ RW 008

Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432