Bukan Sekadar Mesin Pencetak Laba: Menumbuhkan Keberanian, Ruang Gerak dan Inovasi di Tengah Hari Buruh
Ketika kita melihat keluar jendela dan terdapat seseorang yang bekerja dengan keras di tengah teriknya matahari dengan upah di bawah ketetapan minimum, ataupun beberapa pekerjaan yang mewajibkan kita untuk meninggalkan integritas diri, kita turut menanyakan kembali kemanakah perginya prinsip ‘kemanusiaan yang adil dan beradab’ saat ini.
Peringatan Hari Buruh atau ‘May Day’ yang jatuh setiap tanggal 1 Mei 2026 tidak hanya memusatkan tuntutan pada besaran angka upah minimum maupun jabatan, melainkan justru pada keberadaan eksistensial seorang pekerja yang kerap dikesampingkan demi kepatuhan moralitas dan loyalitas pada institusi.
Dalam mengkaji ulang makna ‘kesejahteraan buruh’, kita tentunya tidak terlepas dari konsep kesetaraan yang digagaskan oleh Karl Marx pada tahun 1800-an. Pada kala itu, Marx mengkritik bahwa sistem kapitalisme industri secara lambat laun akan menghasilkan konflik sosial antara pemilik (borjuasi) dan buruh (proletariat).
Mengacu pada hal tersebut, kita perlu memahami bahwa pekerja sesungguhnya bukanlah sekadar pencetak laba bagi sebuah instansi atau industri, melainkan individu yang memiliki aspirasi, keinginan untuk memiliki ruang gerak, dan berinovasi dengan merdeka di tengah budaya kerja yang mendekorasi pemikiran kita yang menempatkan pekerjaan sebagai identitas diri baik dalam ruang keluarga maupun sosial.
Di tengah percepatan pengembangan teknologi dan AI saat ini juga, yang tentunya menciptakan sebuah ancaman bagi para pekerja (terutama kaum pekerja industri kreatif), kita juga harus mengingat kembali bahwasanya pekerjaan sesungguhnya merupakan realisasi identitas di mana ide-ide segar tidak hanya disuarakan, tetapi juga diakui—lantas membuka diskursus baru terhadap budaya saling menghormati terhadap berbagai bidang pekerjaan meskipun teknologi kian mendominasi pemikiran sekaligus pangsa pasar.
Mungkin bagi sebagian dari kita, memaknai Hari Buruh atau May Day juga menempatkan bahwasanya di tengah pekerjaan 9 to 5 ataupun 24 hours (bagi para driver online dan admin sales atau IT support), penting juga bagi kita untuk membangun surga kecil untuk menjaga kewarasan hidup yang sustainable.
Pada akhirnya, peringatan Hari Buruh harus melampaui batas tuntutan normatif semata. Ini adalah seruan untuk merevolusi budaya kerja secara fundamental. Perusahaan dan pemangku kebijakan harus berani mengambil langkah proaktif dalam menciptakan ekosistem kerja yang tidak hanya memberikan reward, tetapi juga menghembuskan napas bagi kaum pekerja untuk hidup dan berkarya dengan bebas.
Sumber Referensi:
Post-Mortem Humanisme - Memaknai Keberadaan di Era Modern - Ardianzy
Marxisme dan Kapitalisme dalam Prespektif Kemanusiaan: Sebuah Analisis Kritis - Kompasiana
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Yayasan Dian Asra
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Cibubur
Jln. Rawa Dolar 65
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432
Kampus Cibubur Kranggan Raya
Jln. Raya Kranggan, No.6, RT 006/ RW 008
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432