Menyelami Sekilas Lautan Komunikasi Digital: “Aku Klik, Maka Aku Ada”
Media sosial, salah satu bagian dari komunikasi di era digital saat ini, telah memungkinkan terciptanya sebuah ekosistem bagi banyak kalangan demografi. Keberadaan media sosial sebagai ruang komunikasi terpadu: tidak hanya kita dapat mengonsumsi berbagai informasi, kita juga mampu menciptakan ruang diskusi interaktif.
Selebihnya, melalui ekosistem komunikasi interaktif yang terbangun melalui media sosial, kita juga meraih kemudahan dalam pembuatan sekaligus pendistribusian konten. Komodifikasi yang dikemas melalui komunikasi digital di media sosial, dari personal branding hingga pemasaran digital, yang didukung oleh dorongan algoritma, kian mendorong rasa penasaran kita untuk memahami konten tersebut.
Namun, dibalik kemudahan komunikasi digital saat ini, terdapat sebuah pertanyaan; “aku klik, maka aku ada?”. Konten komunikasi digital saat ini sangatlah berkaitan erat dengan algoritma yang berpacu pada preferensi pengguna.
Kendati demikian, pembahasan sesungguhnya ialah bagaimana komunikasi melalui konten tersebut dapat menciptakan siklus yang mengikat para audiens, hingga mereka akan menempatkan konten tersebut sebagai standarisasi.
Menurut kajian salah satu dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara (UNDIRA), Dr. Algooth Putranto, hal ini berkaitan dengan konsep Elaboration Likelihood Model (ELM), di mana efek persuasi dari komunikasi digital dapat memainkan peran penting dalam membangun persepsi audiens dalam jangka panjang.
Bagi beberapa pengguna, pembangunan citra dari sosial media secara tidak langsung juga berpotensi berujung tidak hanya pada perubahan persepsi, namun juga karakter sekaligus sense of belonging dengan adanya klik terhadap pembahasan tertentu yang sesuai preferensi user, lantas menjawab frasa; “aku klik, maka aku berada” di era komunikasi digital.
Rafael Capurro, seorang akademisi bidang science information dalam bukunya yakni; “Homo Digitalis” (2017) menyoroti bagaimana kemudahan komunikasi digital berpotensi menggeser peran manusia sebagai aktor aktif komunikasi menjadi mayoritas konsumen pasif. Singkatnya konsumsi konten berlebihan tanpa filter, menempatkan kita dalam ketergantungan dunia maya.
Dengan kata lain, keberadaan manusia sebagai aktor komunikasi sangat dipengaruhi tidak dari bagaimana kita dapat mengekspresikan ide untuk dikomunikasikan, tetapi ditentukan oleh interaksi yang tercipta dari balik layar serta algoritma (yang berfungsi menampilkan citra diri kita melalui shares dan likes).
Pergerakan agresif sebagian besar konten dalam bentuk komodifikasi dan rating algoritma, kembali lagi pada komunikasi digital sebagai pembangunan persepsi, ruang media sosial yang awalnya merupakan ekosistem ramah diskusi kini kian bergerak menjadi ajang perlombaan serta menguak beberapa fenomena seperti; cancel culture, penyebaran hoax, ruang pencarian validasi, dsb - all for the sake of algorithm dan content.

Kajian Thomas Hobbes, seorang akademisi sosiologi yang mengaitkan komunikasi digital pada konsep Primus Inter Pares menekankan bahwa kesetaraan semu beserta keinginan subjektif pengguna yang tercipta dalam dalam iklim komunikasi digital dapat dengan mudah menarik perhatian massa.
Fenomena ini memicu krisis identitas bagi individu; kemampuan kritis untuk mempertanyakan informasi pun luntur. Akibatnya, pengguna terjebak dalam persepsi yang seragam atau diistilahkan sebagai 'we are what we see' dan ‘what we see is what we want’.
Sebagai konsumen konten di era komunikasi digital saat ini, selayaknya kita mampu membatasi diri atas pola konsumsi komunikasi digital terutama dalam platform media sosial. Mempertanyakan sesuatu meskipun dalam hal terkecil sekalipun merupakan pertanda rasa penasaran yang mampu menjadi tools terkuat seseorang untuk mencari jawaban terbaik.
Janganlah pernah berhenti mempertanyakan hal sekitar kita kawan UNDIRA, keberadaan dan inovasi dimulai dari sebuah pertanyaan.
Sumber Referensi:
Hardiman, F. B. (2021). Aku klik maka aku ada: Manusia dalam revolusi digital. Kanisius. Repositori Perpustakaan Nasional
(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Lainnya
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Cibubur
Jln. Rawa Dolar 65
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432