Perkuat Wawasan Mengenai Investasi dan Perekonomian: Program Studi Manajemen dan Akuntansi UNDIRA Ikuti CMSE 2026 di BEI
Jakarta, 06 November 2026 - Di tengah kesibukan dunia, topik pembicaraan seputar investasi dan perekonomian kian menjadi subjek diskusi hangat di tengah masyarakat. Sebagaimana yang kita ketahui, kedua aspek tersebut merupakan denyut dari keberlanjutan sebuah negara, di mana jika investasi berjalan dengan baik maka ekonomi yang tertata akan berangsur terbentuk secara menyeluruh. Namun, untuk memastikan keduanya berjalan selaras, diperlukan pemahaman yang tentunya cukup ekstensif.
Memahami concern mengenai ekosistem investasi dan perekonomian, sebanyak 35 mahasiswa Program Studi Manajemen dan Akuntansi, didampingi oleh Wakil Rektor II Bidang Keuangan dan Sumber Daya, Bapak Dwi Sapto Febriantaka, M.A., sekaligus Kepala Pusat MKCU dan MBKM sekaligus dosen Program Studi Manajemen Universitas Dian Nusantara (UNDIRA), Bapak Lutfi Alhazami, S.E., M.M., turut mengikuti seminar Capital Market and Summit Expo (CMSE) 2026, yang diadakan di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta Selatan, pada Kamis, 5 November 2026.
Menurut Bapak Lutfi Alhazami, S.E., M.M., pelaksanaan kegiatan CMSE 2026 kali ini, yang menghadirkan dua narasumber sekaligus praktisi terkemuka di dunia investasi dan perekonomian, menjadi momentum keilmuan yang tentunya tidak dapat dilewatkan, terutama bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Keikutsertaan mahasiswa UNDIRA dalam kegiatan CMSE kali ini diharapkan mampu memperluas wawasan sekaligus meningkatkan exposure mereka terhadap dinamika dunia investasi beserta perekonomian makro.
Mengawali seminar dan forum diskusi CMSE 2026, Lo Kheng Hong, selaku salah satu investor senior dan juga dijuluki sebagai “Warren Buffett Indonesia”, senantiasa membagikan sejumlah informasi berkualitas bagi seluruh tamu seminar CMSE. Menurut beliau, investasi yang baik tidak hanya berpusat pada profit taking dan profit gain semata, tetapi juga harus memperhatikan dengan seksama skema daya tumbuh industri, perusahaan, sekaligus kestabilan jangka panjang kinerja operasional sektor industri maupun perusahaan tersebut. Lo Kheng Hong lantas menguraikan bahwa terdapat tiga sektor yang sekiranya dapat selalu dilirik; perbankan, sektor energi (terutama batubara, karena keberadaannya yang banyak dicari dan digunakan), dan sektor komoditas seperti kelapa sawit.
Berlanjut, beliau menambahkan bahwa seorang investor juga harus pandai membaca situasi ekonomi baik luar maupun dalam negeri dan mampu memiliki regulasi emosional yang baik, sebagaimana idealisme serta prinsipil yang dijalankan Warren Buffett pada zamannya.
“Ketika seseorang memasuki dunia investasi, manajemen keuangan dan juga analisis ekonomi, mereka harus melakukannya dengan berkepala dingin. Jika yang diinginkan hanya sekadar mendapatkan keuntungan besar dalam waktu singkat, bursa dan pasar modal dapat menjadi perangkap besar yang mampu memindahkan uang orang tidak sabar, kepada orang yang jauh lebih sabar. Setiap emiten memiliki cerita dan dinamikanya masing-masing, maka untuk itu kita harus bijak dan jeli dalam mengatur keuangan dan strategi jangka panjang. Saat terlihat indikasi capital outflow masif, inilah momentum yang tepat untuk kita menyediakan ember besar untuk menampung hujan emas di kemudian hari, it's time to buy,” ujar Lo Kheng Hong.

Senada dengan orasi yang diberikan beliau, Bapak Josua Pardede lantas mengemukakan bahwa pasar modal dan perekonomian itu dasarnya bersifat multidimensional, atau dengan kata lain dapat dipengaruhi, mengikuti, dan bahkan dapat menciptakan banyak aspek serta outcome berbeda. Beliau selanjutnya menjelaskan bahwa semua ini terletak pada sentimen masyarakat sampai dengan kebijakan geopolitik global (seperti peperangan Timur Tengah yang menyebabkan fluktuasi agresif harga minyak dunia, serta potensi kenaikan suku bunga Amerika) yang berpotensi menimbulkan capital outflow besar. Meskipun saat ini perekonomian dan pasar modal sedang dihadapkan pada ketidakpastian, beliau menegaskan bahwa reformasi ekonomi merupakan solusi terbaik bagi keberlanjutan pasar modal dan perekonomian Indonesia.
“Penting bagi kita untuk memperhatikan sektor-sektor yang memiliki porsi ‘kue’ besar, yakni manufaktur, makanan dan minuman, otomotif, agrikultur, serta properti. Kelima sektor tersebut dapat selalu kita pantau karena pertumbuhannya mengindikasikan pola tren leisure spending dan kapasitas perekonomian masyarakat. Kita memang dihadapkan pada kondisi global yang tidak pasti, misalnya fluktuasi harga minyak mentah yang dapat dikatakan volatil. Meski demikian, jika mampu membaca momentum dengan cermat, kita masih memiliki peluang untuk menghasilkan pertumbuhan net positif yang besar dan melakukan reformasi perekonomian bersama. Peluang itu terutama didukung oleh besarnya populasi Indonesia, yang menjadi modal penting untuk mendorong perekonomian sekaligus pasar modal,” ujar Bapak Josua Pardede.
Mengakhiri sesi seminar dan diskusi mendalam seputar pasar modal dan perekonomian dalam forum CMSE 2026, mahasiswa UNDIRA berkesempatan untuk mengelilingi sejumlah booth edukasi saham dari berbagai sekuritas ternama seperti Stockbit, Ajaib, dll., sekaligus mengunjungi pusat UMKM di lantai 2 aula utama BEI untuk mendapatkan ilmu dan poin yang kemudian dapat ditukarkan dengan berbagai gifts sekaligus souvenir. Mahasiswa UNDIRA pun menyatakan bahwa seminar ini merupakan acara yang sangat bermanfaat, insightful, sekaligus menyenangkan. Mereka berharap ke depannya akan ada kesempatan serupa untuk berkunjung kembali ke BEI untuk mendapatkan banyak informasi berkualitas langsung dari sumbernya.

(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Kranggan
Jln. Raya Kranggan, No.6,
Jatiraden, Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432