html hit counter Memaknai Kembali Esensi Ramadhan: Sinergi Sains dan Spiritualitas - Universitas Dian Nusantara

Memaknai Kembali Esensi Ramadhan: Sinergi Sains dan Spiritualitas

Dilihat : 74
18 Februari 2026

Tidak terasa kita telah kembali berjumpa dengan salah satu momen yang tidak hanya menguji kesabaran, tetapi juga iman kita yakni Bulan Suci Ramadhan 1447 H yang jatuh pada tanggal 19 Februari 2026.

Dalam kalender Islam, Ramadhan bukan sekadar penanda waktu atau ritual menahan lapar dan dahaga semata. Bulan Suci Ramadhan dapat dimaknai sebagai momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sekaligus refleksi diri. Ramadhan adalah momen di mana dimensi biologis dan psikospiritual manusia didesain ulang untuk mencapai kinerja yang optimal.

Secara esensi, Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam sistem penanggalan Hijriah yang mewajibkan umat Islam untuk berpuasa.

Namun, dalam perspektif yang lebih luas, Ramadhan adalah periode detoksifikasi total baik bagi tubuh maupun jiwa yang memiliki landasan ilmiah yang kuat serta dampak spiritual yang mendalam.

Pembatasan asupan makanan berlebihan untuk sementara waktu diketahui dapat meningkatkan produksi protein yang berperan dalam memicu pertumbuhan sel-sel baru di tubuh kita. 

Ketika kita menjalankan ibadah puasa, maka secara langsung kita memberikan tubuh momen untuk mengistirahatkan atau meminimalisir kinerjanya dalam mengolah makanan. Selebihnya, tubuh juga berkesempatan untuk membuang racun dengan lebih efektif karena pola makan yang lebih minimalis. 

Di luar aspek fisik, Ramadhan adalah latihan disiplin psikologis tingkat tinggi. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa termasuk amarah dan perilaku impulsif, sejatinya adalah melatih regulasi emosi. 

Bagi seorang akademisi, kemampuan meregulasi emosi ini sangat krusial dalam menghadapi tekanan tenggat waktu, ujian, maupun dinamika diskusi ilmiah. Puasa melatih kita untuk memberikan jeda antara stimulus (rasa lapar atau pemicu emosi) dan response (tindakan), sehingga melahirkan pribadi yang lebih tenang dan bijaksana.

Selain itu, atmosfer Ramadhan yang kondusif mendorong peningkatan kualitas ibadah yang berdampak pada mindfulness atau dalam terminologi Islam disebut khusyu. Kekhusyukan adalah kondisi ketenangan batin dan fokus penuh saat beribadah. Kondisi mental ini berkorelasi erat dengan kemampuan konsentrasi yang mendalam (deep work). 

Mahasiswa atau dosen yang terbiasa melatih kekhusyukan cenderung memiliki rentang fokus yang lebih baik saat membedah literatur atau menyelesaikan tugas akademik yang kompleks.

Pada dasarnya Bulan Suci Ramadhan bukan penghalang produktivitas maupun pemicu kemalasan, melainkan awal mula untuk mencapai versi terbaik dari diri kita. Dengan memahami mekanisme biologis dan manfaat psikologis di baliknya, civitas akademika diharapkan dapat menjalani Ramadhan bukan sekadar sebagai gugur kewajiban, melainkan sebagai momentum strategis untuk menajamkan intelektualitas dan mematangkan spiritualitas.

(Sekar Ayu / Humas UNDIRA)

Press Contact :

Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara 

humas@undira.ac.id

Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id

Lainnya

Kampus Tanjung Duren

Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1

Grogol, Jakarta Barat. 11470

Kampus Green Ville

JIn. Mangga XIV No. 3

Kampus Cibubur

Jln. Rawa Dolar 65

Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432