Remake dan Remastered: Bagaimana Keduanya Berpengaruh Dalam Literature dan Storytelling
Bagaikan sebuah kayu jati yang semakin berusia, semakin kokoh, literatur dan kesusastraan pun juga memiliki pandangan semata bagi para penggiat seni dan humaniora. Pada saat kita menikmati sebuah karya literatur, pada dasarnya kita tidak hanya berkecimpung dalam penyajian informasi semata, tetapi juga dalam bagaimana karya literatur tersebut memberikan kesan berkepanjangan kepada kita. Menurut salah satu riset yang dikaji oleh Osaka University of Arts, Osaka, Jepang, dan dimuat dalam jurnal Elsevier, pengalaman dengan konten literatur (khususnya yang memiliki unsur interaktivitas) dapat memengaruhi umpan balik pembaca/penikmat karya. Dalam konteks ini, diketahui bahwa presentasi dan pengemasan literatur dapat membentuk persepsi seseorang.
Namun, sebagaimana karya seni pada umumnya, banyak karya sastra yang kini kian terbenam seiring berjalannya waktu. Kendati demikian, modernisasi sekaligus percepatan teknologi dan digitalisasi kian membuka ruang bagi berbagai karya literatur untuk diadaptasi kembali ke format yang terkesan lebih “fresh”, melalui konsep “remake” maupun “remastered”, kawan UNDIRA.
Lebih dari sekadar pemenuhan kebutuhan dan komitmen teknis maupun industri, kedua konsep tersebut bertujuan untuk menghidupkan kembali, membuka aksesibilitas dan pengalaman baru terhadap sebuah karya sastra agar lebih welcoming dan engaging baik kepada penyuka lama maupun pendatang baru, dan memberi “napas” kepada berbagai karya. Nah, di masa modern ini, remake dan remaster dapat ditemukan dalam berbagai karya seperti; film, musik (terutama musik bernuansa penggambaran romantisme, kritik dan emansipasi sosial lainnya), dan bahkan dalam karya literatur interaktif digital seperti video game.
Meskipun memiliki tujuan utama yang serupa, pada dasarnya, remake dan remaster memiliki cara yang cukup berbeda dalam menghidupkan kembali karya sastra. Remastering, atau juga kerap dikenal sebagai reimagining, bertujuan untuk memberikan perbaikan fisik atau penambahan elemen yang ada pada karya, tanpa sama sekali mengubah substansi kata, alur, maupun jiwa dari karya aslinya. Remaster juga dapat dilakukan sesederhana menambahkan kualitas audiovisual pada sebuah karya saja. Hal ini dinilai dapat meningkatkan imersivitas storytelling yang sebelumnya mungkin terhambat oleh keterbatasan teknologi maupun pemahaman.
Metode remastering dapat dilihat pada beberapa karya literatur klasik, seperti; Peter and Wendy (1911), karya J.M. Barrie, yang kemudian dihidupkan kembali menjadi Peter Pan. Contoh lain dari remaster juga dapat dilihat pada studi kasus sederhana penambahan kualitas audiovisual pada sebuah karya, salah satunya adalah video game God of War Remastered (2015), dan juga The Last of Us Remastered.
Nah, setelah memahami intisari dari metode remaster, sekarang kita bergerak ke ranah remake. Ketika mendengar kata remake, pemikiran kita akan tertuju pada kata “re-make”, yang berarti membuat ulang. Meneropong ulang studi yang dimuat dalam jurnal Osaka University of Arts, terdapat konsep yang disebut sakai-kan atau pandangan dunia (worldbuilding), dan konsep ini sekiranya adalah salah satu pandangan terdekat dalam menerjemahkan apa itu remake.
Sakai-kan menjelaskan bahwa melalui penggabungan, penyelarasan dan pembaruan elemen-elemen baru (musik, visual art, dan bahkan voice-over) dalam sebuah karya literatur, akan tercapai kebaruan harmonis, tanpa menghilangkan secara keseluruhan narasi yang ada pada karya sebelumnya. Inilah pemaknaan dari remake. Remake secara esensial bertugas mengonstruksi ulang naratif, elemen mekanik dan nuansa (worldbuilding), beserta perwatakan setiap karakter dengan tujuan menciptakan storytelling yang relevan dan lebih fit and proper dengan nuansa generasi saat ini. Hal ini juga dapat meningkatkan kesempatan bagi writer dan juga engineer untuk mengeksplorasi ide dan sudut pandang baru demi memodernisasi karya-karya tersebut.
Kita dapat melihat beberapa contoh karya remake, seperti lagu Barbie World yang sebelumnya merupakan Barbie Girl (1997), dan juga lagu Forever Young, yang dibuat oleh Alphaville dan kemudian diadaptasi ulang dari masa ke masa. Contoh lain dari konsep remake dapat dilihat pula pada video game seperti; Resident Evil 4 Remake, Dead Space Remake, dan Final Fantasy 7 Remake.
Program Studi Sastra Inggris Universitas Dian Nusantara mengajakmu menyelami sastra, bahasa, dan budaya secara kritis. Melalui konsentrasi studi peminatan sastra terapan, ilmu sastra tidak berhenti pada analisis teks, melainkan dipraktikkan dalam penulisan kreatif, adaptasi lintas media, hingga industri kreatif dan konten digital, ranah tempat remake dan remaster banyak lahir. Pintu Sastra Inggris UNDIRA terbuka untukmu. Jangan hanya menjadi penikmat, jadilah bagian dari mereka yang menghidupkan kembali kisah-kisah berharga.
Sumber Referensi:
Remake & remaster video game: Apa maksudnya & mengapa bisa terjadi?
(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Kranggan
Jln. Raya Kranggan, No.6,
Jatiraden, Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432