html hit counter Kebudayaan Terlahir, Membentuk Eksistensi, Membentuk Identitas, dan Membentuk Peradaban Berkelanjutan - Hari Kebudayaan Nasional - Universitas Dian Nusantara

Kebudayaan Terlahir, Membentuk Eksistensi, Membentuk Identitas, dan Membentuk Peradaban Berkelanjutan - Hari Kebudayaan Nasional

Dilihat : 19
16 Oktober 2026

Ketika kita berbicara mengenai budaya, pemikiran kita tentunya tidak jauh dari ekspresi dan juga kreativitas. Bagi sebagian orang, budaya pada dasarnya merupakan sebuah roda gigi yang senantiasa membentuk kehidupan dan identitas, baik secara individu maupun kolektif. Pada dasarnya, keberadaan budaya turut memengaruhi bagaimana kita mempersepsikan dan membuka kesadaran, sebagaimana yang disinggung René Descartes, “Cogito, ergo sum” - aku berpikir, maka aku ada. 

Dahulu, pada era golden age atau keemasan kebudayaan seperti era Victorian, kebudayaan cenderung dipahami sebagai kepekaan atau set of rules yang menunjukkan citra estetika dan nuansa elegan. Namun, kini pemaknaan kebudayaan kian berubah seiring melekatnya intervensi dan adaptasi berbagai komunitas masyarakat, negara, dan juga demografi lintas generasi. Sebagaimana kehidupan yang terus berevolusi, kebudayaan pun menerapkan hukum serupa: it is now born from the people, by the people, and for the people. 

Jika semula kebudayaan mencerminkan sebatas keindahan yang berasal dari sejarah dan warisan turun-temurun kalangan tertentu, kini kebudayaan terlahir sebagai bagian dari kalangan yang senantiasa mengekspresikan ideologi, identitas dan juga pesan penuh kritik. Alhasil, kebudayaan kini menjadi lebih dari sekadar formalitas semata, melainkan menjadi ruang ekspresi, citra gaya hidup, pembentuk identitas dan juga pemerkaya jati diri. 

Mengacu kembali pada figur René Descartes, beliau mengungkapkan bahwa kebudayaan sangatlah berkaitan dengan akal (res cogitans), di mana keberadaan manusia akan berjangkar. Descartes mendorong manusia untuk tidak hanya menerima tradisi semata, melainkan juga mendorong manusia untuk bersenandung menggunakan akal dan imajinasi mereka guna menciptakan, menafsirkan dan menguji hal-hal baru yang selayaknya meninggalkan identitas yang dapat dipelajari, serta dinikmati bersama dalam bentuk seni, ilmu pengetahuan, dan juga tentunya adat istiadat.

Pergeseran akulturasi budaya dan juga perubahan paradigma bahwa kebudayaan selalu berkaitan dengan keanggunan, lebih dari budaya sebagai citra identitas dan aspirasi diri, dapat dilihat dari berbagai fenomena kebudayaan modern, salah satunya seperti cosplay atau costume play. Meskipun identik dengan kebudayaan negeri Sakura, seni budaya ini kian dipopulerkan di berbagai negara. 

Lebih dari sekadar tren generasi muda semata, berkembangnya komunitas kreatif di Indonesia, arti cosplay tidak lagi terbatas pada meniru karakter anime atau game luar negeri. Dalam berbagai festival kebudayaan dan perayaan nasional, para kreator lokal gencar melakukan akulturasi budaya. Hal ini lantas, menunjukkan bahwa akulturasi budaya melalui seni modern seperti cosplay, tetap dapat digunakan sebagai media pelestarian identitas budaya.

Selain dapat dilihat sebagai penggugah akal dan imajinasi, keberadaan budaya bukan hanya catatan yang dapat dinikmati dan dipelajari saja, melainkan juga dapat berfungsi sebagai katalis bagi berkembangnya kemajuan daerah. Melalui kajian tentang relasi perekonomian dan kebudayaan salah satu kawasan cagar budaya interkultural di Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Ibu Nur Endah Retno Wuryandari, S.Sos., M.M., salah satu dosen Program Studi Manajemen Universitas Dian Nusantara (UNDIRA), menegaskan bahwasanya eksistensi budaya merupakan salah satu faktor pendorong perekonomian daerah. 

Hal ini sangat berkaitan dengan posisi budaya dan representasinya dalam menunjang penciptaan nilai yang bertumpu pada ide, pengetahuan adat (folklore), dan kreativitas manusia. Inilah yang membuat kebudayaan lantas menjadi wujud dominan utama aset tidak berwujud bernilai bagi perekonomian mayoritas daerah-daerah nusantara. 

Pada akhirnya, kebudayaan adalah perjalanan yang tidak pernah berhenti, selama peradaban masih mendapatkan kehidupan. Merujuk pada tema Hari Kebudayaan Nasional tahun ini, yakni; “Budaya untuk Masa Depan: Antara Warisan, Inovasi, dan Perubahan”, kita melihat kembali bahwa budaya memberikan kesempatan bagi berbagai generasi agar mereka dapat membentuk eksistensi masing-masing. Budaya yang hidup bukanlah budaya yang dibekukan dalam kenangan, melainkan budaya yang terus diwariskan, diperbarui, dan dirayakan bersama untuk masa depan. 

Sumber Referensi:

Wuryandari, N. E. R., Purwanto, S., Perkasa, D. H., & Arijanto, A. (2026). Lasem: Ekonomi kreatif dan cultural heritage marketing: Strategi pemasaran warisan budaya berbasis batik, kuliner, maritim, komunitas, dan pariwisata berkelanjutan.   

How Does Culture Influence Identity - Third Space

Keanekaragaman Budaya Indonesia: Warisan yang Harus Dijaga - Pemerintah Kecamatan Gerokgak

(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)

Press Contact :

Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara

humas@undira.ac.id

Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id

Lainnya

Kampus Tanjung Duren

Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1

Grogol, Jakarta Barat. 11470

Kampus Green Ville

JIn. Mangga XIV No. 3

Kampus Kranggan

Jln. Raya Kranggan, No.6,

Jatiraden, Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432