html hit counter Ketika Tanah Menyimpan Si Jago Merah: Mempelajari Kebakaran Lahan Gambut dan Mengapa Sulit Dipadamkan - Universitas Dian Nusantara

Ketika Tanah Menyimpan Si Jago Merah: Mempelajari Kebakaran Lahan Gambut dan Mengapa Sulit Dipadamkan

Dilihat : 64
13 Oktober 2026

Ketika kita melihat musibah kebakaran, pasti yang terlintas di benak pada saat si jago merah berkobar adalah “gunakan air dan siram sebanyak-banyaknya agar cepat padam, solusi yang mudah”. Meskipun umumnya jawaban tersebut adalah solusi yang valid, apa yang terjadi ketika pernyataan serupa dilontarkan pada kasus kebakaran hutan dan lahan seperti karhutla yang kini terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya yang kini menjadi sorotan, karhutla Kalimantan.

Menurut laporan yang dilansir dari kanal resmi Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, kebakaran hutan dan lahan kini tercatat mencapai sekitar 789 titik (dan dilaporkan masih meluas di beberapa hotspot tertentu) berdasarkan laporan dan pantauan Sistem Pemantauan Karhutla milik Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, kian memperburuk tidak hanya kualitas udara di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. 

Meskipun secara logika umumnya air merupakan elemen yang mampu memadamkan api, dalam kasus Karhutla kali ini ada sedikit perbedaan, yaitu masih terdapat potensi kebakaran susulan di area yang telah dipadamkan. Mengapa hal ini dapat terjadi, kawan UNDIRA? Mari kita telusuri bersama. 

Karhutla yang secara umum sulit dipadamkan memiliki kaitan erat dengan satu fenomena, yakni smouldering combustion atau pembakaran di bawah permukaan, meskipun pada level permukaan tanah api telah berhasil dipadamkan. Hal ini sebagian besar berkaitan erat dengan struktur dan karakteristik mayoritas lokasi karhutla, yang mayoritas merupakan lahan gambut dengan beberapa karakteristik yang cukup unik. 

Tanah gambut memiliki sifat fisik khas berupa kadar air tinggi, porositas besar, berat jenis butiran rendah, berat volume rendah, kompresibilitas tinggi, serta kemampuan mengalami penyusutan yang signifikan. Karakteristik tersebut menjadikan tanah gambut berbeda dari tanah mineral, baik dari aspek perilaku geoteknik maupun kerentanan terhadap kebakaran. 

Tanah gambut terbentuk dari akumulasi bahan organik berupa sisa tumbuhan yang mengalami proses dekomposisi tidak sempurna dalam kondisi jenuh air dan kekurangan oksigen. Tanah gambut memiliki sifat fisik yang berbeda dari tanah mineral, terutama dalam hal kadar air, berat volume, porositas, permeabilitas, daya dukung, dan kemampuan mengalami pemampatan.  Namun, cuaca kering yang terjadi akibat El Niño memperparah situasi dengan menipiskan pasokan air, mempercepat akumulasi panas berlebih di lapisan atas dan bawah lahan, dan hilangnya kelembapan tanah juga memungkinkan oksigen (O2) untuk menyusup masuk ke pori-pori tanaman, memperkuat adanya potensi combustion oleh panas berlebih.

Akibatnya, bara dapat bertahan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, muncul kembali ke permukaan ketika kondisi mendukung, serta menghasilkan asap pekat dan emisi karbon dan gas beracun seperti PM2.5 dalam jumlah besar. 

Dalam mengatasi polemik karhutla, metode pemadaman konvensional kini tidaklah lagi efektif untuk meredakan si jago merah. Beberapa solusi, seperti pemadaman melalui penanaman nozzle selang air, kini menjadi solusi terbaik. Metode lainnya seperti pemantauan Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) dapat membantu mengetahui kondisi kelembapan secara real-time, lantas meningkatkan penanganan risiko kebakaran lahan gambut sebelum kejadian berlangsung. 

Dalam mempelajari fenomena kebakaran hutan dan lahan, terdapat beberapa aspek keilmuan Teknik Sipil yang dapat dipelajari dan diteliti, beberapa di antaranya meliputi studi terkait geoteknik dan juga hidrologi. Dalam studi keilmuan Teknik Sipil, Geoteknik mempelajari tidak hanya praktik dan teori seputar pengukuran dan perancangan infrastruktur, tetapi juga bagaimana, selayaknya seorang ahli sipil profesional, kita dapat menjunjung tinggi nilai kestabilan, keamanan dan keberlanjutan permukaan bumi. 

Konsentrasi Studi Geoteknik yang ada di Program Studi Teknik Sipil Universitas Dian Nusantara (UNDIRA), senantiasa membekali perjalanan dan pemahaman kalian dalam mempelajari struktur dan sifat mekanik pertanahan secara imersif. Di Program Studi Teknik Sipil, kalian tidak hanya berkesempatan belajar, tetapi juga mencari solusi aplikatif bagi ketahanan dan keberlangsungan konstruksi dan ekologi. Mari bergabung bersama Teknik Sipil UNDIRA!

Sumber Referensi:

Mengapa Kebakaran Gambut Bisa Terus Membara di Bawah Permukaan?

Karakteristik Lahan Gambut dan Strukturnya

Hotspot Nasional Turun 789 Titik, Kemenhut Terus Perkuat Penanganan Karhutla

(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)

Press Contact :

Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara

humas@undira.ac.id

Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id

Lainnya

Kampus Tanjung Duren

Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1

Grogol, Jakarta Barat. 11470

Kampus Green Ville

JIn. Mangga XIV No. 3

Kampus Kranggan

Jln. Raya Kranggan, No.6,

Jatiraden, Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432