html hit counter Menjaga Aksara, Merawat Budaya dan Literasi: Kilas Balik Evolusi Aksara Dari Masa ke Masa - Universitas Dian Nusantara

Menjaga Aksara, Merawat Budaya dan Literasi: Kilas Balik Evolusi Aksara Dari Masa ke Masa

Dilihat : 13
07 September 2026

Literasi merupakan jejak yang tentunya tidak serta-merta dimulai dari pemahaman data statistik, tetapi juga melalui penggunaan sejumlah simbol dan garis yang kemudian dikemas dalam sebuah sistem penulisan, dengan harapan informasi dapat terbaca bagi generasi mendatang. Inilah konsep yang dikenal sebagai aksara. 

Secara mendasar, istilah aksara sendiri berasal dari bahasa Sanskerta (a-kṣara), yang berarti tidak terbagi. Mengacu pada pemahaman tersebut, kita dapat melihat bahwasanya setiap elemen dalam sebuah aksara; simbol, garis, dan huruf yang kemudian menjelma menjadi informasi dan bahasa yang dapat menjembatani isi pemikiran manusia, dan dengan demikianlah konsep “tidak terbagi” yang dikaitkan dengan aksara senantiasa menjadi sebuah penghubung pemikiran antarindividu yang melampaui ruang dan waktu, tertuang dalam catatan (baik itu fiksi maupun nonfiksi). 

Kawan UNDIRA, jauh sebelum kertas modern hadir, masyarakat di Nusantara menggunakan daun lontar untuk menulis, Media tulis ini dikenal fleksibel, kuat dan mampu bertahan dalam waktu lama. Selain itu, terdapat daluang atau dluwang, yaitu kertas tradisional yang dibuat dari olahan kulit pohon saeh yang berkembang di wilayah Jawa, Sunda, dan Madura sejak abad ke-9. 

1

Perkembangan media tulis aksara lantas berkembang kembali melalui pemanfaatan kulit kayu gaharu pada beberapa naskah adat, salah satunya Pustaha Laklak. Barulah, sekitar abad ke-17, kertas Eropa masuk ke Nusantara dan diproduksi secara massal karena lebih efisien dan kompatibel dengan mesin cetak.

Terlepas dari bagaimana aksara dikembangkan melalui media tulis dari masa ke masa, kita juga dapat melihat kembali bahwasanya aksara tidak hanya berkembang berdasarkan media tulisnya, tetapi juga dari sejumlah unsur eksternal seperti kebudayaan serta pertukaran intelektual antar bangsa. 

Wajah pembentuk aksara atau sistem penulisan awal di Nusantara berawal dari kedatangan dari India sekitar abad ke-4 bersama dengan penyebaran ajaran Hindu-Buddha, melalui aksara Pallawa dan kemudian berkembang menjadi aksara Kawi. Sejak abad ke-8 hingga abad ke-16, aksara Kawi pun kerap digunakan untuk menulis sejumlah manuskrip adat maupun historis. Beranjak dari turunan Buda atau Gunung dari sekitar kawasan Gunung Merapi dan Merbabu, aksara Kawi kemudian kelak berevolusi menjadi aksara Jawa, Bali, Sunda (Cacarakan) dan juga menyebar ke Sumatera menjadi Melayu Kuno dan aksara Incung.

Gelombang selanjutnya datang melalui jalur perdagangan Arab, bersamaan dengan mulainya penyebaran agama Islam sekitar abad ke-14 hingga abad ke-7. Pada masanya, aksara Arab tidak hanya digunakan untuk menyalin mushaf, tetapi juga turut diadaptasikan menjadi format penulisan bahasa daerah, seperti aksara Jawi dan Melayu. Dalam penggunaannya, karena terdapat beberapa bunyi atau pelafalan bahasa daerah yang tidak ada di bahasa Arab asli, masyarakat turut melakukan penyesuaian agar dapat lebih mudah dipahami. 

Gelombang terakhir pun datang dari Eropa melalui jalur perdagangan serta beberapa kedatangan para misionaris Portugis dan Belanda ke sejumlah daerah. Pada masanya, sejumlah bahasa Melayu, Jawa, dan bahasa lokal lainnya mulai ditransisikan ke dalam aksara Latin untuk mempermudah komunikasi administrasi dan pendidikan, serta mempermudah sistem percetakan yang dicetuskan oleh Vereeniging Oost Compagnie (VOC) pada zaman itu. Aksara Latin, pada akhirnya, merupakan gelombang evolusi terakhir yang bertahan secara universal hingga saat ini melalui sejumlah penyempurnaan sistem ejaan yang terus dimodifikasi dari Ejaan van Ophuijsen (1901), Ejaan Soewandi (1947), Ejaan yang Disempurnakan (1972), PUEBI, hingga Ejaan yang Disempurnakan Edisi ke-5 saat ini.

Menyambut Hari Aksara Nasional mendatang pada 8 September 2026, esensi aksara yang terhubung secara keseluruhan merupakan perpanjangan dari pemahaman manusia. Dengannya, setiap gelombang ide dan nurani dapat tertuang dalam karya dari masa ke masa, sekaligus mencitrakan perkembangan dan kekayaan sebuah peradaban, budaya dan literasi yang terbentang bertahun-tahun. 

Merawat aksara, pada akhirnya, adalah merawat cara sebuah bangsa mengingat, dan terus menuliskan kembali, dirinya sendiri, bagi generasi yang menjelang. 

1

Sumber Referensi: Kuratorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia - Aksara & Keberaksaraan: Membaca yang Silam, Menulis yang Menjelang

(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)

Press Contact :

Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara

humas@undira.ac.id

Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id

Lainnya

Kampus Tanjung Duren

Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1

Grogol, Jakarta Barat. 11470

Kampus Green Ville

JIn. Mangga XIV No. 3

Kampus Kranggan

Jln. Raya Kranggan, No.6,

Jatiraden, Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432