html hit counter Mengenal Ludonarasi: Bagaimana Video Game Menghidupkan Sastra Dalam Seni Interaktif Digital - Universitas Dian Nusantara

Mengenal Ludonarasi: Bagaimana Video Game Menghidupkan Sastra Dalam Seni Interaktif Digital

Dilihat : 76
10 Oktober 2026

Sastra, sebagaimana kita pahami, tidak hanya menguak kritik terhadap naskah semata, tetapi juga berbagai sejarah, pemikiran dan juga pandangan sosial dan budaya manusia dari masa ke masa. Di masa modern ini, mengenal kajian susastra juga tentunya tidak hanya terbatas pada literatur dalam buku saja, tetapi juga pada berbagai kanal medium lainnya. Di tengah perkembangan dan percepatan digitalisasi, salah satu bentuk susastra modern yang kini kian mendapatkan atensi besar adalah video game. 

Meskipun dianggap oleh mayoritas publik sebagai medium entertainment semata, kompleksitas narasi, interaktivitas, dan juga worldbuilding concepts yang dibawakan oleh video game tidak hanya mendukung pengalaman bermain yang lebih menarik, tetapi juga mencanangkan identitas video game itu sendiri sebagai salah satu bentuk susastra modern populer melalui berbagai skema sosial, ideologi dan budaya dunia yang diadopsikannya. 

Video game tidak hanya menyampaikan narasi melalui dialog, kawan UNDIRA. Berbeda dengan novel atau cerpen yang menempatkan pembaca dalam ruang pasif, video game menempatkan pemain sebagai pihak aktif yang mampu menggerakkan dan mengembangkan cerita baik dari alur narasi maupun dari interaksi dengan mekanika game yang tersedia demi menyampaikan keseluruhan konteks literaturnya. Hal ini berkaitan dengan kajian mengenai permainan dan mekanika bermain, yaitu studi ludonarrative yang mengkaji hubungannya dengan unsur naratif dalam video game. 

Ludonarasi atau ludonarrative, pada dasarnya merupakan analisis berbagai elemen dalam video game atau karya fiktif lainnya. Ludonarasi menggambarkan keterkaitan antara konsep ludic (permainan) dan konsep naratif (cerita) dalam sebuah video game. Ketika sebuah cerita atau tema keseluruhan narasi video game berjalan selaras dengan mekanik yang ada di dalamnya, maka hal ini disebut sebagai ludonarrative resonance atau keselarasan ludonarasi. 

The Witcher menjadi salah satu contoh video game yang memenuhi kriteria ludonarrative resonance, yaitu ketika gameplay dan ceritanya saling selaras. Game ini berlatar pada era Abad Pertengahan dan terinspirasi dari mitologi serta sejarah Eropa. Keselarasan itu terlihat dari mekanika permainannya, seperti sihir, alkimia, dan perburuan monster serta makhluk mitologis, yang semuanya sejalan dengan alur cerita Geralt of Rivia sebagai tokoh utamanya. 

Contoh lain dari ludonarrative resonance ialah Red Dead Redemption II. Dalam game tersebut, keselarasan gameplay akan terasa lebih berat seiring dengan kondisi kesehatan sang protagonis, Arthur Morgan, yang semakin memburuk akibat tuberkulosis. Alhasil, protagonis akan semakin rapuh seiring berjalannya alur cerita Red Dead Redemption II. 

Nah, kawan UNDIRA, setelah melihat beberapa aspek dari ludonarrative resonance, sekarang kita menuju pada pembahasan bagaimana jikalau narasi atau landasan tema sebuah video game tidak selaras dengan mekanik yang ada dalam game. Hal ini dikenal sebagai ludonarrative dissonance. 

Istilah ludonarrative dissonance, yang dipopulerkan oleh perancang game Clint Hocking pada 2007 lewat kritiknya terhadap BioShock, menggambarkan situasi ketika narasi dan mekanisme permainan saling bertentangan. Contohnya, karakter yang digambarkan sebagai sosok bermoral dan penuh empati, tetapi dalam permainan bebas melakukan kekerasan tanpa batas. Kritik ini justru menunjukkan bahwa video game kini dinilai dengan standar yang serius, yaitu seberapa konsisten bentuk dan isi saling menopang, sebagaimana kita menilai karya sastra pada umumnya. Contoh lainnya terdapat pada game seperti Uncharted, di mana protagonis utama, Nathan Drake, memiliki moralitas yang cenderung pasifis, tetapi secara struktural-mekanis, dalam game, kita diperbolehkan melakukan berbagai tindakan kekerasan untuk bertahan hidup.

Ludonarasi membuka pandangan yang jauh lebih lengkap tentang bagaimana kita memposisikan studi kajian susastra dengan lebih luas. Bagi para pengkaji sastra, video game tentu tidak dapat secara universal menggantikan peran buku, tetapi keberadaan video game sebagai salah satu medium sastra kini kian menggambarkan berbagai sudut pandang moralitas dan budaya, kian mempertegas bahwasanya di balik sejuta piksel dalam sebuah karya digital, masih terdapat gagasan dan narasi reflektif yang dapat dikaji.

Bagi kawan UNDIRA yang tertarik terhadap dunia sastra dan kajiannya, Program Studi Sastra Inggris Universitas Dian Nusantara (UNDIRA) mungkin menjadi pilihan tepat untuk kalian tekuni dalam perjalanan mengkaji, meneliti, dan bahkan suatu saat mampu mengembangkan jiwa kesusastraan kalian. Write your story, begin your art with UNDIRA.

Sumber Referensi:

Ludonarative Explained Thoroughly - StudysmarterUK

Games as Literature 101 - Ludonarrative Harmony - Games as Literature YouTube Channel

Apa itu ludonarrative dissonance? Ketahui definisi dan seluk-beluk tentang ludonarrative dissonance di sini!

(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)

Press Contact :

Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara

humas@undira.ac.id

Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id

Lainnya

Kampus Tanjung Duren

Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1

Grogol, Jakarta Barat. 11470

Kampus Green Ville

JIn. Mangga XIV No. 3

Kampus Kranggan

Jln. Raya Kranggan, No.6,

Jatiraden, Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432