Better Late Than Never: Mengenal dan Mengatasi Quarter-Life Crisis Bagi Mahasiswa
Terkadang ketika kita sudah lulus atau bahkan menuju babak terakhir menuju kelulusan, kita akan bimbang dan bingung mau dibawa ke mana hidup rasanya, bagaimana kita menata masa depan jika masa sekarang saja sudah sangat terasa berat. Dewasa ini kita semakin banyak bertanya dan meragukan diri sendiri ketika kita melihat gaya hidup yang telah memiliki jam terbang, pertanyaan seperti; “kenapa rasanya hidup orang lain mulus-mulus saja tanpa adanya rintangan, beda dengan saya” atau bahkan sesimple “when yh”. Kawan UNDIRA, hal ini pada dasarnya sangatlah lumrah karena kalian mungkin sedang memasuki masa Quarter-Life Crisis.
Quarter-Life Crisis atau krisis seperempat abad merupakan fenomena psikologis yang dilalui seseorang dengan rentang usia 18-30 tahun. Quarter-Life Crisis muncul ketika kita merasa tidak memiliki arah hidup yang jelas atau bahkan selalu overthinking akan segala hal positif yang kita lihat di luar ruang lingkup pribadi kita (baik itu menyangkut hal karier maupun romansa).
Meskipun merupakan hal lumrah, Quarter-Life Crisis yang dihiraukan semata-mata dapat mengganggu rutinitas kita jika dibiarkan begitu saja. Bahkan ketika kita memilih untuk berkreasi, overthinking yang muncul dari Quarter-Life Crisis akan lambat laun muncul kembali di pikiran kita sebagai bagian dari permasalahan yang belum terselesaikan dengan diri kita sendiri.
Meskipun menyesakkan, masa tertinggal atau tidak memiliki hidup yang setara dengan orang lain itu sewajarnya bukan akhir dari ceritamu, kawan UNDIRA. Dalam menghadapi Quarter-Life Crisis, penting bagi kita untuk menerapkan growth mindset. Untuk menerapkan growth mindset agar kita tidak terjebak dalam Quarter-Life Crisis, cobalah terapkan beberapa hal berikut:
-
Cobalah Kenali Dunia Lebih Luas Dari Berbagai Sudut Pandang
Quarter-Life Crisis sering terasa seperti berlari di atas roda hamster: capek, terus berputar, tapi rasanya tidak ke mana-mana, apalagi saat kita melihat hidup orang lain yang tampak lebih baik. Salah satu cara keluar dari putaran itu adalah mengubah arah pandang. Jangan hanya menengok ke atas, sesekali lihat juga ke sekitar dan ke bawah, pada orang-orang yang perjalanannya mungkin belum seberuntung kita. Dari situ kita jadi sadar bahwa sukses tidak selalu identik dengan kemewahan. Pelan-pelan, anggapan bahwa keberhasilan harus selalu gemerlap pun bisa kita lepaskan.
-
Berdamailah Dengan Diri Sendiri
Berdamai dengan diri dan mencintai diri tidak selalu harus dalam bentuk self-reward, kawan UNDIRA. Berdamai dengan diri pada dasarnya merupakan bagian dari self-love di mana kita tidak memberikan energi positif secara impulsif, tetapi kita justru membuka ruang untuk mengenal diri sendiri, bahwasanya effort yang kita kerahkan sudah cukup dan nantinya akan menghasilkan buah pada waktunya.
Selebihnya, jika melihat hal-hal positif, berhentilah menyabotase hidup sendiri atau merasa minder karena kalian belum setara dengan orang lain, kawan UNDIRA. Setiap orang memiliki garis mulai kesuksesan dan garis akhir perjalanan yang berbeda.
-
Fokuskan Energi Pada Langkah Kecil Yang Dapat Kita Atur
Ingat, kawan UNDIRA, Quarter-Life Crisis dimulai dari ambisi kita yang lari tanpa kendali. Meskipun memiliki prinsip jiwa visioner dengan cita-cita jauh ke masa mendatang merupakan pandangan yang baik, jangan membebani diri dengan ambisi besar yang sekiranya membutuhkan waktu 5 atau bahkan 30 tahun untuk dicapai. Mulailah dari langkah mikro secara konsisten, misalnya, hari ini kalian belajar membuat HTML menggunakan koding, lalu hari selanjutnya kalian mulai belajar bagaimana memuat dataset menggunakan Google Spreadsheet. Focus on what you can do today, not what could be done tomorrow.
Melewati fase Quarter-Life Crisis memanglah sedikit rumit dan tidak banyak dari kita yang dapat melaluinya secara cepat. Tetapi, jika kawan UNDIRA mampu mengarahkan atensi dan energi pada lingkungan serta kegiatan yang tepat, pastinya kalian akan mampu melewati rintangan ini dengan mudah.
Di Universitas Dian Nusantara (UNDIRA), kita tidak perlu melewati fase ini sendirian. Ada teman seperjalanan, dosen, dan lingkungan kampus yang bisa jadi tempat bertukar cerita dan sama-sama bertumbuh. Jadi, kalau hari ini rasanya hidup berjalan lebih lambat daripada orang lain, tidak apa-apa. Kita tidak terlambat, kita hanya sedang berproses di waktu kita sendiri. Seperti kata pepatah, better late than never: yang terpenting adalah tetap melangkah, sekecil apa pun langkahnya. Pelan-pelan saja, kawan UNDIRA. Kamu lebih mampu daripada yang kamu kira.
Sumber Referensi:
Memahami Quarter Life Crisis dan Cara Menghadapinya - Alodokter
Allen, J. 2024. Light on Life’s Difficulties. Second Hope. ISBN: 978-623-6042-24-3
(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Kranggan
Jln. Raya Kranggan, No.6,
Jatiraden, Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432