Ketika Perasaan dan Kedekatan Menimbulkan Keresahan: Memahami Avoidant Attachment Sejak Dini
Emosi dan kedekatan seakan hampir mirip dengan sebuah permainan bisbol. Ketika kita siap mengayunkan tongkat untuk memukul bola, terdapat pilihan untuk berdiam dan membiarkan strike terjadi, dan kita tidak berlari menuju base—dan tentunya melewati momen untuk mencetak home run. Hal serupa juga dapat dilihat dalam dinamika relasi sosial.
Bagi banyak individu, menjalin silaturahmi dan kedekatan merupakan hal yang lumrah dan bahkan natural untuk dilakukan. After all, kemampuan bersosialisasi merupakan salah satu capaian yang wajib dimiliki manusia sebagai makhluk sosial. Kedekatan sendiri dapat dijalin dengan tujuan mutualistis, meningkatkan silaturahmi emosional, dan juga membentuk rasa aman untuk berbagi pahit dan manis.
Berkacamata dari attachment theory dari salah satu jurnal keilmuan psikologi yang dimuat dalam Behavioural Sciences oleh Uccula, A. et al. (2023), kemampuan bersosial dan silaturahmi merupakan mekanisme yang telah berakar secara natural dalam seluruh manusia. Seorang individu memiliki teknik merajut kedekatan yang berbeda tergantung pada pengalamannya sejak kecil, dan pengalaman tersebut juga berperan dalam membentuk diri kita di kemudian hari.
Kendati demikian, tidak semua individu akan merasakan sentimen serupa mengenai konsep kedekatan. Meskipun dalam dinamika relasi sosial kedekatan merupakan hal yang lumrah, sebagian individu justru akan mempertimbangkan hal-hal lain seperti; “Apakah jika terjalin kedekatan, diriku akan aman?”, “Bagaimana jika terlalu mengenal akan menimbulkan ekspektasi berlebihan dan diriku akan kecewa di kemudian hari?”.
Hal ini sudah bukan konsep lama lagi, kawan UNDIRA, dan kerap dikenal sebagai Avoidant Attachment. Menurut kajian yang dikemukakan Hazan dan Shaver (1987), Avoidant Attachment pada dasarnya juga merupakan salah satu representasi kedekatan; Secure Attachment (rasa aman), Anxious-preoccupied (kecemasan), Fearful-avoidant (ketakutan), dan tentunya Dismissive-avoidant (menghindar) atau yang kerap dikenal sebagai Avoidant Attachment itu sendiri.
Avoidant Attachment pada dasarnya adalah pola perilaku ketika seorang individu cenderung menarik diri atau menciptakan "jarak" saat bersosialisasi, terutama ketika kedekatan maupun keintiman mulai terbentuk. Menariknya, pola ini tidak muncul begitu saja, kawan UNDIRA, melainkan terbentuk dari pengalaman hidup atau dari cara pandang seseorang yang menganggap ketergantungan dan hubungan interpersonal sebagai hal yang membuang waktu, membuat diri menjadi rentan terhadap faktor eksternal, membatasi kebebasan diri, menimbulkan ketidaknyamanan, dan berpotensi merugikan diri sendiri di kemudian hari.
Dalam studi kasus sehari-hari, kita dapat melihat sejumlah pola yang serupa pada individu yang menerapkan Avoidant Attachment; kecenderungan menekan diri walaupun di ruang lingkup kasual dan ramai, kurang responsif secara emosional, merasa gelisah atau tidak nyaman saat berhubungan sosial, dan juga cenderung menghindari pembicaraan yang bersifat personal.
Meskipun tergolong counterproductive, dalam kajian psikoanalisis oleh Sigmund Freud yang kemudian dikemas dalam buku “The Ego and the Mechanisms of Defence” pada tahun 1936 oleh Anna Freud, Avoidant Attachment juga dapat dipandang sebagai bentuk pertahanan diri pasca adanya pembelajaran fenomenologis dari rasa sakit, kekecewaan, dan juga penolakan.
Pada akhirnya, pemahaman terkait Avoidant Attachment bukan hanya sekadar terbatas pada konsep psikologi semata, melainkan juga bagaimana kita dapat melihat dan bertanya apakah kedekatan dan keintiman merupakan konsep yang sulit dibentuk bagi sebagian individu atau bahkan memberatkan diri kita?.
Bagi kawan UNDIRA yang merasa relate dengan pembahasan ini, kehidupan perkuliahan sebenarnya bisa menjadi ruang latihan yang aman untuk perlahan menurunkan "jarak" tersebut. Relasi yang sehat tidak perlu dibangun secara berlebihan, melainkan dari hal-hal kecil yang mungkin terlihat sepele, dan belajar mengapresiasi kehadiran orang lain dalam hidup kita.
Sumber Referensi:
Kalamsari, N. S., & Ginanjar, A. S. (2023). Kelekatan, resolusi konflik, dan kepuasan hubungan berpacaran pada dewasa muda: Model analisis jalur. Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology, 10(1), 39–58.
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Lainnya
Menjelang Hari Lahir Republik Indonesia ke-81: Memandang Kembali Lensa Peradaban, Makna Kedaulatan dan Kemakmuran
Read more
Melacak Jejak Ki Hajar Dewantara dalam Membentuk Masa Depan Generasi Z
Read more
Perkuat Jejaring Akademik Internasional, UNDIRA Jajaki Kerja sama Dengan Nizhyn Gogol State University
Read more
Yayasan Dian Asra
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Cibubur
Jln. Rawa Dolar 65
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432
Kampus Cibubur Kranggan Raya
Jln. Raya Kranggan, No.6, RT 006/ RW 008
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432