html hit counter Memaknai Hidup Dengan Penuh Munajat, Menteri Agama Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar Ungkapkan Simbol Sejati Kebaikan dan Silaturahmi - Universitas Dian Nusantara

Memaknai Hidup Dengan Penuh Munajat, Menteri Agama Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar Ungkapkan Simbol Sejati Kebaikan dan Silaturahmi

Dilihat : 12
24 April 2026

Perjalanan waktu dan perubahan budaya tidak hanya membentuk sifat manusia, tetapi juga mengubah persepsi kita terhadap pentingnya menjalin tali silaturahmi. Dalam era Society 5.0, keberadaan media sosial yang semestinya menjadi sarana untuk mendekatkan justru kerap berubah menjadi ruang kompetisi, ajang validasi diri, sekaligus wadah yang memperkuat stigma negatif. 

Alhasil, banyak dari kita mulai mengesampingkan upaya melihat kebaikan dan menjalin silaturahmi karena lebih terfokus pada kecenderungan overthinking dan membentuk sikap antisosial sebagai respons untuk mencegah drama yang tidak kita perlukan dalam hidup.

Dalam segmen tausiyah yang diberikan Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., pada acara Halalbihalal sekaligus Milad NBO ke-6 di ruang Aula Universitas Dian Nusantara (UNDIRA), Tanjung Duren, Jakarta Barat, beliau menjelaskan bahwa terdapat kebaikan di segala jenis benda, baik hidup maupun mati. Namun, beliau menegaskan sesungguhnya kita perlu meyakini keberadaan kebaikan tersebut untuk dapat mengapresiasi dengan penuh khidmat.

Kita semua, baik benda mati maupun benda hidup, terlahir dalam kebaikan yang terdiri dari unsur lahiriyah, yakni aspek fisik makhluk hidup maupun benda mati yang dapat dirasakan melalui panca indera dan batiniah, yang meliputi aspek mental dan jiwa dari sebuah makhluk maupun benda. Mengapa saya juga mengikutsertakan benda? Hal ini berkaitan dengan bagaimana kebaikan juga menjadi jalan bagi kita untuk tidak hanya berbuat tetapi juga mengapresiasi bahkan pada objek yang kita temui sehari-hari,” ujar Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.

Seterusnya, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., menambahkan bahwa berbuat baik juga dapat melatih kita semua dari terbentuknya sifat egois dan materialisme, menuju pribadi yang lebih ikhlas dan bermunajat kepada Allah SWT. Hal tersebut menurutnya berkaitan dengan bagaimana berbuat baik diibaratkan sebagai latihan jiwa untuk dapat melepas keinginan dan ambisi berlebih (overambition), lantas membuat seseorang menjadi pribadi yang lebih humanis dan tidak hanya mengedepankan pencapaian maupun validasi semata. 

Terkadang dalam melihat kebaikan, kita tidak terhindar dari ego kita sendiri yang cenderung mengedepankan keinginan materialistik maupun keinginan untuk memenuhi kebutuhan batiniah. Untuk itu, penting bagi kita untuk mengimbanginya dengan berdoa dan meminta jalan kepada Allah SWT. Namun, penting untuk diingat bahwa doa yang baik perlu diimbangi dengan munajat agar doa kita tidak terkontaminasi oleh hasrat dan ambisi,” ujar beliau. 

Ketika kita telah melampaui fase mengapresiasi, tahap berikutnya adalah kemampuan untuk benar-benar mengakui keberadaan, nilai, sekaligus membangun silaturahmi dengan setiap hal di sekitar kita. Pada titik ini, pemahaman tidak lagi bersifat permukaan, melainkan berkembang menjadi kesadaran yang utuh terhadap makna dan kontribusi yang ada dalam lingkungan kita.

Dengan berbuat baik, kita tidak hanya membangun silaturahmi, tetapi juga turut mendisiplinkan diri untuk dapat mengapresiasi hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. Dari amal baik dan silaturahmi yang kita kukuhkan, akan terdapat makna yang tidak akan pernah hilang meskipun kita telah tiada. 

Hati yang baik akan menjadi gambaran diri seseorang, karena sesungguhnya kehidupan mereka diiringi dengan nikmat yang diberikan Allah SWT. Bagi orang yang hatinya bersih, ketika memejamkan mata mereka akan mampu melihat cahaya maupun objek yang menjadi kenangan baik dalam hidup mereka.” ujar beliau

Sekali jadi manusia, diawali dengan ketiadaan, namun tidak akan diakhiri dengan ketiadaan. Alam barzakh ke depannya bagi kita merupakan istirahat sejenak, di mana semua amal baik, nilai agama beserta silaturahmi yang kita jalin akan membantu menjadi saksi kita di kemudian hari. Sesungguhnya Allah menciptakan dan mengasuh kita meskipun halaman kita di alam fana telah tertutup.” akhir kata beliau.

(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)

Press Contact :

Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara

humas@undira.ac.id

Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id 

Lainnya

Yayasan Dian Asra
Kampus Tanjung Duren

Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1

Grogol, Jakarta Barat. 11470

Kampus Green Ville

JIn. Mangga XIV No. 3

Kampus Cibubur

Jln. Rawa Dolar 65

Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432