Di balik kepergiannya, terdapat warisan yang ditanamkan. Mengenang Wafatnya Yesus Kristus
Setiap tahunnya, dua hari sebelum perayaan Hari Paskah, pada tanggal 3 April 2026 mendatang, umat Kristiani di seluruh dunia turut berbelasungkawa dalam Jumat Agung sebagai penanda wafatnya Yesus Kristus.
Pada hari tersebut, umat Kristiani akan melaksanakan ibadah puasa Prapaskah selama 40 hari, dimulai dari Rabu Abu hingga Kamis Putih. Hal tersebut dilaksanakan sebagai komitmen umat Kristiani dalam mengenang kepergian Yesus Kristus, dan ada pula beberapa larangan, salah satunya yang paling utama yakni umat Kristiani dilarang mengonsumsi daging apa pun dalam waktu yang ditentukan.
Hari bersejarah sekaligus religius ini merupakan sebuah momentum kepergian dan penyaliban Yesus Kristus di Bukit Golgota, Yerusalem kurang lebih sekitar 2000 tahun silam atau sekitar 30 s.d. 33 Masehi lalu.
Atas pembangkangan yang dilakukan salah satu muridnya, Yudas Iskariot, Yesus Kristus berhasil ditangkap dan disalib sebagai bentuk eksekusi oleh otoritas Romawi atas dugaan keberadaannya yang dapat mengancam keberlangsungan kekaisaran Romawi pada masa itu.
Meskipun sekilas hal tersebut mencerminkan duka dan kepergian, sesungguhnya apa yang dilakukan Yesus Kristus pada kala itu merupakan simbol keberanian beliau untuk menebus dosa umat manusia. Lantas hal tersebut dikenang sepanjang sejarah umat Kristiani sebagai tindakan tanpa pamrih yang paling mulia, lantas penamaan Jumat Agung pun digunakan.
Selebihnya, di balik kematian Yesus Kristus, terdapat pesan bermakna sekaligus warisan yang tersirat bagi umat manusia. Menurut 2 Korintus 5:17: “Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”, disebutkan bahwa di balik adanya keburukan yang menimpa kita, terdapat kesempatan atau hikmah untuk kita kembali berintrospeksi diri menuju kehidupan baru yang lebih baik.
Di sisi kemanusiaan, tidak ada kebaikan yang lebih baik daripada kepedulian berlandaskan kasih dan keadilan bermartabat. Sikap beserta langkah self-sacrifice Yesus Kristus merupakan warisan spiritual kepada umat Kristiani yang menggeserkan kita dari pola hidup penuh egosentrisme dan apatisme, agar kita semua dapat kembali memanusiakan manusia dan ciptaan Allah.
Kepergian tidaklah selamanya; bagi jiwa yang masih kita kenang, ilmu yang diwariskan akan hidup terus-menerus sepanjang waktu. Mengenang kepergian Yesus Kristus, kembali dalam naungan Jumat Agung.
Sumber Referensi:
Oikumene - Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia
Mengenal Sejarah Hari Wafat Yesus Kristus: Makna Jumat Agung
(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Lainnya
Antara Diri dan Ketidakpastian: Memahami “Rumah” Sesungguhnya dari Sebuah Kasih Sayang
Read more
Universitas Dian Nusantara Menggelar Acara Pembukaan Perkuliahan Semester Ganjil Tahun 2022 / 2023 di Dua Lokasi Kampus
Read more
Skeptisisme dan Pandangan Dunia Pendidikan Terhadap Konsep Tersebut
Read more
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Cibubur
Jln. Rawa Dolar 65
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432