Antara Diri dan Ketidakpastian: Memahami “Rumah” Sesungguhnya dari Sebuah Kasih Sayang
Setiap bulan Februari, tepatnya tanggal 14 Februari, terdapat fenomena yang selalu diwarnai dengan suasana menyejukan. Palet warna cerah merah dan pink, aroma floral, beserta etalase yang menawarkan tidak hanya kemasan hadiah berupa cokelat, tetapi juga bunga turut memenuhi ruang publik.
Hal tersebut tentunya merupakan simbolisme ekspresi atas momen peringatan Hari Valentine, sebuah perwujudan komitmen, saling memahami, janji, dan terutama kasih sayang. Bersumber dari Roma pada abad ke-3 Masehi, Hari Valentine sendiri dirayakan atas usaha tokoh Saint Valentine yang menentang peraturan yang dibuat Kaisar Claudius II.
Atas pembangkangannya terhadap aturan Kaisar Claudius II yang memuat larangan untuk mengekspresikan kasih sayang terutama pada kalangan prajurit, pada 14 Februari, Saint Valentine dijatuhi hukuman. Atas jasanya dalam mengedepankan rasa kemanusiaan antar-rakyat Roma, 14 Februari pun pada akhirnya dikenang sebagai Hari Valentine sebagai simbol kemanusiaan dan kasih sayang.
Berbeda dengan potret yang umumnya ditampilkan di media sosial maupun film, Hari Valentine bukan hanya tentang percintaan semata, melainkan perjalanan, pemahaman, bagaimana kita membuka diri kepada orang lain, sekaligus bagaimana kita mengalahkan prasangka.
Dalam langkah memahami kasih sayang, langkah pertama ialah bagaimana memanusiakan diri sendiri. “Sebelum mengasihi orang lain, bukalah kesempatan untuk memahami dan memaafkan diri sendiri”, merupakan salah satu quote terkuat yang tidak hanya mengungkapkan bahwa kasih sayang tidak terlahir secara instan.
Kita terkadang terlena dalam memahami diri sekaligus siapa diri kita sebenarnya dan mengapa kita berada di titik pencapaian saat ini. Meskipun memahami diri merupakan fase yang sulit, namun ketika kita berhasil mencapai titik tersebut maka kita akan mendapatkan kemudahan untuk membuka hati agar lebih dekat ke orang lain.
Setelah mengetahui diri, langkah selanjutnya dalam memaknai cinta dan kasih, kita tiba pada fase mengalahkan ego, ketakutan dan obsesi. Dalam buku “Mengapa Takut Kehilangan” terdapat salah satu pembahasan menarik tentang kisah mitologi Yunani “Narcissus”. Narsissus, seorang pemuda tampan yang menjadi pusat pesona publik, namun di saat yang sama egonya kerap menimbulkan kesombongan hingga pada titik para dewa mengutuknya untuk mencintai bayangannya sendiri hingga akhir hayat.
Beranjak dari kisah Narcissus, keinginan untuk memperlihatkan kebanggaan diri merupakan sifat alamiah antarmanusia agar kehidupan memiliki alur progresif, namun di saat yang sama hal tersebut memiliki kontradiksi dalam kasih sayang. Cinta kasih, sejatinya bukanlah bentuk validasi berlebihan, melainkan sebuah lembaran yang ditulis bersama.
Langkah terakhir dalam memaknai kasih sayang mencakup bagaimana mengalahkan ketakutan yang timbul dari kedekatan. Pada dasarnya, keinginan untuk tetap terlihat merupakan sifat alamiah wajar bagi manusia, terutama dengan orang yang telah dekat secara emosional dengan kita.
Namun, kini kita dihadapkan pada standar sosial sekaligus bagaimana media menyoroti citra kasih sayang melalui keberadaan materi, validasi eksternal, obsesi, penampilan, dll. Memang, usaha yang turut dikerahkan antarpihak merupakan langkah untuk mencapai kesepahaman, namun Aristoteles mengungkapkan bahwa kasih sayang sesungguhnya didorong oleh niat baik antarpihak untuk saling bertumbuh kembang menuju kehidupan yang lebih baik atau singkatnya ‘Eudaimonia’.
Ada yang juga menganggap bahwa kontradiksi dan perbedaan pendapat dalam membangun kasih sayang mampu mengarahkan seseorang ke arah rasa obsesi serta paranoia. “Fear leads to hate, hate leads to anger, anger leads to suffering.”
Seorang sastrawan, Sartre, menjelaskan bahwa kasih sayang merupakan sebuah pilihan yang, meskipun menciptakan konflik, mampu mengisi kehidupan kita melalui tercapainya pengakuan, persekutuan dalam kebebasan, dan komitmen bersama. Kasih sayang sesungguhnya merupakan momen di mana kita dapat saling memahami kelebihan maupun kekurangan, serta tentunya menumbuhkan a sense of belonging atau “Rumah” yang dibangun dengan kepercayaan sekaligus ikhtiar.
Sumber Referensi:
Hidayat, Komaruddin. 2025. Mengapa Takut Kehilangan. PT Kompas Media Nusantara.
The Blurry Universe - “Jatuh Cinta Dalam FIlsafat dan Sains”
(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Lainnya
Mengobarkan Semangat Juang Di Tengah Tantangan Modernitas: Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu
Read more
Pilar Pertumbuhan Ekonomi dari Waktu ke Waktu: Sejarah dan Peran Pasar Modal Indonesia: Hari Pasar Modal Indonesia.
Read moreUniversitas Dian Nusantara Resmikan Laboratorium Ilmu Komunikasi dan Talkshow Live
Read more
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Cibubur
Jln. Rawa Dolar 65
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432