Menelusuri Strategi PR dan Marketing Campaign Influencer: Simak Riset Kolaborasi Dosen UNDIRA dan NAKKIM, Ukraine Berikut
Kesuksesan dari digital marketing tentunya tidak hanya datang dari pola produksi, namun juga bagaimana kita mengatur strategi Marketing Campaign yang efektif melalui pola komunikasi dan praktik public relation. Ilmu Komunikasi sangat berperan dalam era Digital Marketing terutama dalam segi Public Relations. Kini berbagai effort dalam meningkatkan exposure terhadap pola komunikasi beserta detailnya yang mengungkapkan bahwa komunikasi tidak hanya berdasarkan atas pertukaran informasi semata, namun juga penggerakan pola pikir disaat yang sama.
Salah satunya ialah kajian kolaboratif antara dosen Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara (UNDIRA), Dr. Algooth Putranto, Jamalullail, dan seorang scholar dari NAKKKIM Kyviv, Ukraina Valeri Vitaliyovych Marchenko turut mengungkapkan bahwa ada aspek komunikasi lebih dalam dari sudut pandang Marketing Campaign sekaligus keterkaitannya dengan modern public relation practices.
Mengenai keterkaitan antara praktik PR modern dan Marketing Campaign, riset akademik juga mengkaitkan adanya upaya bahwa komunikasi modern terutama dalam ruang digital, kini tidak hanya mengarahkan opini, namun juga secara aktif berupaya membentuk persepsi publik melalui wacana beserta aksi nyata.
Meskipun pemanfaatan trend maupun fenomena viral menjadi kunci kesuksesan PR dan Marketing Campaign, namun dalam rangka menciptakan ruang komunikasi dua arah yang dinilai efektif maka diperlukan pula figur ternama atau singkatnya influencer. Ekosistem berkelanjutan yang diciptakan influencer membuka kesempatan tidak hanya dalam menjaga retensi publik, namun tentunya dalam mendorong kolaborasi berkelanjutan strategis antar mitra.
Menurut kajian Dr. Algooth Putranto dan koleganya, adanya bentuk ajakan atau ketertarikan yang berasal dari humor, daya tarik sumber, guggahan emosi, serta tingkatan popularitas (baik terhadap fenomena atau figur tersebut) yang kini menjadi fokus PR modern dan tentunya Digital Marketing beserta branding sebagai perluasan.
Secara bersamaan hal ini juga dijelaskan lebih lanjut dalam konsep ELM atau Elaboration Likelihood Model, dimana praktik PR yang dilaksanakan influencer sebelumnya melalui berbagai metode memainkan peran penting dalam membentuk pola pikir dan tindakan audiens berdasarkan pesan yang dimuat oleh Influencer tersebut. Hal ini dianggap sangat strategis terutama mengingat permintaan konten beserta kecepatan akses informasi yang tinggi pada saat ini.
Selebihnya, dari sudut pandang komunikasi (terutama komunikasi interpersonal) yang turut serta mendukung konsep ELM, pola interaksi yang tercipta dari komunikasi responsif para influencer dinilai positif dalam menjaga konsistensi brand image sekaligus citra diri influencer tersebut di hadapan publik.
Dalam studi bidang lain, terutama psikologi komunikasi adanya konsistensi brand image, praktik PR serta komunikasi interpersonal antara influencer dan audiens akan menanamkan kepercayaan tersendiri, dan dinilai mampu melebihi pemaparan akan data statistik ataupun instansi yang diwakilkan oleh influencer tersebut atau singkatnya ‘efek singularitas’. Hal ini dinilai mampu mendorong keterbatasan yang sebelumnya ada pada media tradisional ataupun pola komunikasi satu arah yang hanya melibatkan pemaparan informasi semata tanpa komunikasi intensif maupun berkala (information dumping).
Meskipun dinilai mampu menjaga keberlangsungan Marketing Campaign secara efektif, kajian juga menunjukan bahwa adanya otentisitas, knowledge gap terhadap produk beserta citra diri influencer harus didasari dengan kejujuran dalam penyampaian wacana. Persepsi publik pada akhirnya dapat menjadi make or break dalam menjaga disclosure produk sekaligus hubungan interpersonal antarpihak, lantas menjadikan pertimbangan besar implementasi Influencer dalam praktisi PR dan Marketing Campaign.
Secara keseluruhan, kajian Dr. Algooth Putranto memuat kedua sisi koin, perspektif dan tantangan atas implementasi PR terutama dalam workflow influencer. Selain itu, kajian juga menunjukan bahwa pola komunikasi tidak hanya bersifat monotone atau liner, dan nyatanya terdapat banyak jalur serta beberapa level kedalaman terhadap studi Ilmu Komunikasi sendiri - baik dari pembelajaran atas pola pikir manusia, perilaku, komunikasi relasional, hingga teknik efektifitas marketing khususnya di era digital serba cepat ini.
Sumber Referensi:
(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Lainnya
Meningkatkan Daya Produktivitas dan Inovasi di Era Industri 4.0: UNDIRA Gelar Workshop Bisnis Bagi Mahasiswa
Read more
UNDIRA Dapatkan Dukungan Ditjen Dikti Upaya Meningkatkan Pembelajaran melalui Smart Classroom
Read moreIntegrasi Budaya Jawa Dalam Membangun Citra Profesional: Prodi Ilkom UNDIRA Mendorong Pembangunan Karakter Melalui Table Manner
Read more
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Cibubur
Jln. Rawa Dolar 65
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432