Kita Menjaga Hutan, Hutan Menjaga Kita: Memahami Sang Garda Terdepan Bumi dan Langit
Beberapa waktu lalu, kawan UNDIRA tentunya familiar dengan perencanaan kawasan agro-ekonomi monokultur berupa penanaman Kelapa Sawit di Papua dan bahkan telah terjadi di beberapa kawasan lain. Selain itu, pembukaan lahan pertambangan menjadi topik pembicaraan yang terlintas ditengah masyarakat Indonesia dan bahkan berbagai komunitas konservasi hutan mancanegara saat ini. Singkatnya dengan ekspansi berlebihan, Bumi kita sedang tidak baik-baik saja.
Meskipun menjadi langkah strategis dalam meningkatkan perekonomian, janganlah kita lupakan bahwa “Hutan adalah mama”, “Hutan adalah ibu” - apa yang berasal dari hutan akan kembali kepada hutan.
Hutan, meskipun merupakan komoditas mudah untuk dikelola, sebenarnya adalah inventaris sensitif yang menyimpan kunci keberlangsungan semua makhluk di Bumi. Hutan adalah salah satu garda terdepan yang meskipun berkontribusi dengan sunyi, selalu hadir untuk menjaga keseimbangan ekosistem baik bagi para satwa, maupun kita sebagai manusia - benar sekali, pelindung terdepan kita tidak lain adalah Hutan.
Hutan, selain berperan aktif sebagai sumber kehidupan dan penopang ekosistem juga merupakan salah satu paru paru terbesar dunia. Menurut data dari Food and Agriculture Association tahun 2025 yang dikutip oleh CNBC Indonesia, kawasan hutan global kini mencakup 32% dari total keseluruhan daratan dunia.
Indonesia sendiri yang berada pada garis khatulistiwa, merupakan negara dengan vegetasi terbesar - mendukung perkembangan keanekaragaman hayati sekaligus memiliki title sebagai salah satu “Paru Paru Dunia” terbesar. Indonesia tercatat memiliki hutan terluas ketiga di dunia dengan luas sebesar 95.969 hektar yang terdiri dari hutan hujan tropis, lahan gambut, serta hutan bakau. Hutan terbesar Indonesia sendiri terletak di kawasan Kalimantan dan Papua.
Mengacu pada persebarluasan hutan di seluruh belahan dunia, Hutan merupakan salah satu penyumbang oksigen terbesar dunia kurang lebih tercatat sebanyak 20-28%. Hal tersebut dapat terjadi karena mayoritas jenis tanaman melalui sebuah proses yang disebut fotosintesis. Proses fotosintesis selain menjadi sumber tenaga bagi sebuah tanaman juga menghasilkan oksigen yang kemudian dilepaskan ke atmosfer. Hutan pada dasarnya mampu menyerap sebanyak 2.6 miliar ton karbondioksida sebagai salah satu bahan dasar terlaksananya proses fotosintesis.
Selebihnya, melalui proses evaporasi natural yang mungkin kawan UNDIRA familiar dengan udara berkabut sejuk ketika berada di kawasan pegunungan, hutan mampu meregulasi temperatur udara sekitar dengan baik melalui pelepasan uap air untuk menstabilkan udara sekitar.
Kita sudah membicarakan bagaimana hutan dapat mengatur kualitas udara beserta sirkulasi temperatur daerah sekitarnya, namun ada satu aspek lagi yang perlu diperhatikan yakni fungsinya sebagai regulator kepadatan tanah.
Kawan UNDIRA pastinya mengetahui bahwa hutan dengan keanekaragaman pohon yang menawarkan kerindangannya sangatlah berbeda dari “hutan” monokultur berupa Kelapa Sawit. Meskipun Kelapa Sawit merupakan sebuah pepohonan, namun berbeda dengan hutan sejati pada umumnya, Kelapa Sawit tidak menawarkan tempat singgasana bagi satwa liar seperti burung atau kera.
Selain itu dari segi penyerapan air dan pengokohan tanah, hutan sejati menawarkan tipe akar yang tidak hanya mampu menyerap air dengan kuantitas besar, namun juga memiliki struktur yang menyebar dengan luas, tentunya berbeda dengan akar Kelapa Sawit yang hanya menyebar ke satu arah dan tidak terlalu mendalam. Hal tersebut lantas memperkokoh struktur tanah alami, mencegah banjir dan mencegah longsor terutama di sekitar kawasan pegunungan yang cenderung landai.
Sudah saatnya kita peduli pada kelestarian hutan. Universitas Dian Nusantara (UNDIRA) yang menerapkan budaya visioner, integritas dan profesional tidak hanya sebatas dalam ruang akademik, melalui salah satu UKMnya yakni Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam) - membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk tidak hanya beregu melestarikan alam, namun juga turut serta memberikan penyuluhan akan betapa pentingnya ekosistem itu sendiri.
Kawan UNDIRA, ditengah berbagai bencana yang telah menimpa Bumi Nusantara, mari pahami bahwa harmoni dan simbiosis mutualisme dengan alam adalah kunci keberlangsungan hidup. Dengan menjaga hutan, hutan pula akan menjaga kita di kemudian hari, Hutan ialah sang ibu semua makhluk.
Sumber Referensi:
CNBC Indonesia - 10 Negara Dengan Hutan Terluas di Dunia, Indonesia Keberapa?
Eiger Tropical Adventure- Mengenal Hutan Konservasi di Indonesia, Jenis, Tujuan, dan Contohnya
Forest Watch Indonesia - Bersama-sama Menjaga Kesehatan “Paru-Paru” Dunia
(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Lainnya
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Cibubur
Jln. Rawa Dolar 65
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432