Mengaplikasikan Teori Piramida Maslow untuk Menjawab Tantangan yang Dihadapi Generasi Alpha

29 Juni 2024

Dalam menempuh hidup, Generasi Alpha kerap kali mendapatkan beberapa tantangan dalam berkegiatan sehari-hari mulai dari keberadaan prokrastinasi, tekanan budaya seperti penekanan konsep ‘Generasi Sandwich’ dan juga faktor lainnya seperti tekanan pemenuhan kehidupan personal. Maka dari itu dibutuhkan adanya penerapan prioritas yang dibutuhkan para Generasi Alpha, hal ini karena Generasi Alpha memerlukan kerangka kerja untuk memahami dan memenuhi kebutuhan dasar mereka agar tidak terjebak dalam FOMO dan keberadaan economic panic.

Terlebih lagi dengan manajemen waktu yang pada mayoritas kasus kerap kali menerapkan sistem tenggat waktu untuk melakukan kegiatan lain terlebih dahulu, dimana ini akan menimbulkan prokrastinasi serta kepanikan jika waktu batas penugasan sudah mendekat. Hal ini mengakibatkan banyaknya terlalainya kebutuhan dasar seperti makan tepat waktu sampai pada kurangnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar terutama pada diri dan inventaris.

Sebuah pemenuhan kebutuhan, manusia membutuhkan pemetaan prioritas yang akan membantu mengatur kegiatan. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengolah prioritas adalah dengan membuka mindfulness. Dengan adanya mindfulness, maka seseorang akan dapat melihat kondisi sekelilingnya sebagai bentuk refleksi untuk kebutuhan dirinya sendiri.

Secara psikologis seseorang memerlukan juga hati yang terbuka untuk belajar “The need to be vulnerable" merujuk pada pentingnya bersikap terbuka dan jujur tentang kelemahan, perasaan, dan ketidakpastian kita kepada orang lain. Ini menekankan bahwa dengan membiarkan hal-hal untuk mengalir dengan alamiyah, maka potensi peningkatan stres yang timbul karena adanya prokrastinasi dan FOMO. Being vulnerable juga mengingatkan bahwa hidup tidak hanya dibatasi oleh diri sendiri dan adanya kerjasama merupakan salah satu cara untuk mengatasi tantangan bagi Generasi Alpha, terutama yang memiliki sifat individualis.

Setiap individu memiliki kebutuhan-kebutuhan yang tersusun secara hierarki dari tingkat yang paling mendasar sampai pada tingkatan yang paling tinggi. Pemikiran Maslow tentang kebutuhan individu merupakan pondasi fokus pemenuhan kebutuhan manusia, namun aplikasinya untuk kepentingan pendidikan tampaknya belum mendapat perhatian penuh. Tentunya dalam pemenuhan kebutuhan terdapat tiga kategori kebutuhan yakni; Primer, Sekunder dan Tersier. Maslow beranggapan bahwa terdapat 5 (lima) kelompok kebutuhan yaitu: (1) kebutuhan fisiologis; (2) kebutuhan rasa aman; (3) kebutuhan cinta dan memiliki-dimiliki; (4) kebutuhan penghargaan; dan (5) kebutuhan aktualisasi diri.

Dalam kasus ini teori piramida milik Abraham Maslow merupakan dasar yang memenuhi kebutuhan dasar manusia agar dapat memenuhi kebebasan untuk aktualisasi diri. Tingkatan hierarki terhdap kebutuhan sehari-hari ditambah dengan adanya perkembangan jangkauan media sosial dapat menimbulkan FOMO yang akan mengakibatkan over consumption behavior melalui budaya panic buying. Maslow menjabarkan bahwa kebutuhan yang paling rendah harus dipenuhi terlebih dahulu agar terdapatnya keharmonisan terhadap kebutuhan fisiologis seperti makan dan kebersihan, maka manusia dapat melanjutkan pemenuhan kebutuhan selanjutnya untuk memenuhi rasa aman.

Titik utama sebelum adanya pemenuhan diri lebih jauh adalah kebutuhan Fisiologis atau kebutuhan fisik. Maslow menyatakan bahwa kebutuhan utama ini yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan dasar sebelum adanya effort seseorang untuk melangkah lebih jauh dalam hidup. Hal ini dikarenakan untuk melangkah seseorang memerlukan Tanpa pemenuhan kebutuhan ini, individu akan menghadapi kesulitan dalam berfokus pada kebutuhan yang lebih kompleks seperti hubungan sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri. Misalnya, seseorang yang kelaparan atau tidak memiliki tempat tinggal yang aman akan sulit memusatkan perhatian pada membangun hubungan sosial yang bermakna atau mengejar tujuan pribadi dan profesional. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan dasar adalah prasyarat penting yang memungkinkan individu untuk berkembang secara fisik, mental, dan emosional, serta mencapai potensi penuh mereka.

Melalui “A Theory of Human Motivation”, Maslow membawakan salah satu gagasan yang berguna untuk memicu motivasi pada seseorang. Bahwa untuk mencapai target yang ada diatas, maka diperlukan langkah-langkah kecil agar tidak membebankan pikiran hanya pada satu target. Bagi para Generasi Alpha, mahasiswa Universitas Dian Nusantara UNDIRA yang sedang berjuang untuk menyelesaikan tugas dan juga mengejar target proyek maupun kerja. Diharapkan gagasan Maslow dapat membantu serta mengingatkan bahwa it is ok to take small steps one at a time, dan memprioritaskan hal satu demi satu dengan ikhtiar merupakan kunci agar dapat meraih target yang lebih besar.

(Kornelia Johana / Humas UNDIRA)

Press Contact :

Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara

humas@undira.ac.id

Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id

Lainnya

Kampus Tanjung Duren

Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1

Grogol, Jakarta Barat. 11470

Kampus Green Ville

JIn. Mangga XIV No. 3

Kampus Cibubur

Jln. Rawa Dolar 65

Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432