Satu Jas Almamater di Bundaran HI, dan Pelajaran tentang Integritas dan Profesionalisme
Sebuah deklarasi digelar di Bundaran HI. Tak lama setelah acara usai, yang ramai dibicarakan bukan lagi isi deklarasinya, melainkan siapa saja yang berdiri di barisan peserta.
Acara bertajuk Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 itu digelar Polda Metro Jaya untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98, dengan tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”. Penyelenggara menyebut pesertanya sekitar 100 mahasiswa, bersama unsur masyarakat dan sejumlah figur publik. Acara itu berlangsung sehari setelah aliansi mahasiswa berunjuk rasa pada 28 Oktober.
Sorotan datang dari warganet yang memperhatikan sejumlah peserta berjas almamater. Salah satunya mengenakan almamater Universitas Dian Nusantara (UNDIRA). Pasca beberapa waktu, pada akhirnya ditemukan bahwa faktanya mahasiswa pemakai almet UNDIRA bukanlah salah satu dari kawan UNDIRA.
Gampang sekali menunjuk satu orang lalu menganggap perkara selesai. Tapi kasus ini lebih berguna jika kita jadikan cermin. Yang tersisa untuk kita adalah pertanyaan yang lebih sulit: seberapa kokoh kita berdiri ketika ada uang yang ditawarkan untuk sesuatu yang kita tahu tidak benar? Mengapa sehelai jas bisa menimbulkan kegaduhan sebesar ini? Jawabannya ada pada Interaksionisme Simbolik (Symbolic Interactionism), perspektif sosiologi yang bertolak dari pemikiran George Herbert Mead dan dirumuskan oleh Herbert Blumer. Blumer mengajukan tiga premis: manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang dimiliki sesuatu itu baginya; makna tersebut lahir dari interaksi sosial, bukan melekat pada bendanya; dan makna terus dikelola serta diubah lewat proses penafsiran.
Secara fisik, jas almamater memang hanyalah kain berlogo, tetapi pada dasarnya keberadaan almamater adalah kebanggaan bahwa kita mendapatkan moniker “maha-siswa”, yakni posisi dan jenjang pendidikan tertinggi, dan sudah sewajarnya kita pula memiliki kebijaksanaan serupa dalam menatap objek dan bahkan hal yang terlintas di sekitar kita.
Sebagai mahasiswa, kita memang punya kewajiban menjaga prestasi: nilai yang kita kejar, karya yang kita buat, dan lelah yang kita tanggung dari semester ke semester. Tetapi ada hal lain yang sama pentingnya dan sering terlupa, yakni menjaga almamater sebagai simbol kebanggaan bersama. Jas itu kelihatannya hanya sehelai kain berlogo. Namun di dalamnya ada nama baik angkatan sebelum kita, jerih payah para dosen, dan, bagi banyak dari kita, uang kuliah yang diperjuangkan orang tua. Ketika jas itu dipakai untuk berpura-pura, yang tercoreng bukan cuma satu kampus; kepercayaan orang pada mahasiswa yang sungguh-sungguh bersuara ikut tergerus.
Uang memang bisa membeli banyak hal. Ia bisa membayar uang kos, ongkos pulang kampung, atau sekadar makan enak di akhir bulan yang seret. Kita paham, tidak semua orang berada dalam keadaan yang longgar. Namun uang tidak semestinya menjadi pengganti integritas, sebab integritas adalah satu-satunya milik yang tak bisa dibeli kembali setelah dijual.
Bagi keluarga besar UNDIRA, kejadian ini layak menjadi pengingat. Langkah organisasi kemahasiswaan yang memilih bersuara terbuka patut dicatat: nama baik dibela dengan keterbukaan, bukan dengan diam. Nama kampus bisa dipinjam siapa saja, tetapi hanya kita yang bisa menjaganya tetap bermartabat, lewat hal-hal kecil: jujur pada diri sendiri dan berani menolak tawaran yang janggal. Keep your almamater and integrity close to your heart, kawan UNDIRA. There are some things money can't buy, and that is your integrity alongside the efforts you pour into our beloved campus.
Sumber Referensi:
Almamater Palsu, Integritas Dipertanyakan
(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Lainnya
Terkadang Yang Kita Butuhkan Bukan Hanya Berani Bergerak, Tetapi Bagaimana Jujur Dengan Diri Sendiri
Read more
Edukasi Bagi Para Pemilih: PANWASLU Adakan Penyuluhan Kepada Mahasiswa UNDIRA
Read more
LRPM UNDIRA Sukses Laksanakan Monitoring dan Evaluasi Penelitian serta Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Akademik 2024/2025
Read more
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Kranggan
Jln. Raya Kranggan, No.6,
Jatiraden, Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432