html hit counter Hutan Gambut Adalah Garda Pertahanan dan Kekayaan Kehidupan Bumi, Karhutla Lahan Gambut Dapat Berakibat Fatal - Universitas Dian Nusantara

Hutan Gambut Adalah Garda Pertahanan dan Kekayaan Kehidupan Bumi, Karhutla Lahan Gambut Dapat Berakibat Fatal

Dilihat : 40
22 Oktober 2026

Di balik hamparan tanah basah yang tampak sunyi, sederhana dan tidak banyak menuai cerita, lahan gambut pada dasarnya merupakan salah satu garda terdepan bagi keberlangsungan ekosistem di muka bumi, kawan UNDIRA. Menurut laporan yang dilansir oleh UN Environment Programme, lahan gambut atau peatlands merupakan ekosistem unik yang terdiri dari material organik yang sedang mengalami atau telah mengalami proses dekomposisi dikarenakan adanya kandungan air pada bagian dalam tanah (water-saturated soil condition). 

Meskipun hutan gambut sendiri mencakup hanya 3-4% permukaan bumi, hutan gambut tidak hanya bertanggung jawab untuk menghasilkan oksigen sebagaimana vegetasi lainnya, tetapi juga memiliki kapabilitas lainnya dalam mendukung ekosistem dunia secara keseluruhan. Indonesia sendiri, menurut Greenpeace, merupakan yang terbesar ke-4 di dunia dengan luas mencapai sekitar 15 juta hektare dan menampung sekitar 60 juta ton karbon.

Pertama, hutan gambut itu bukan sembarang hutan, kawan UNDIRA. Hutan gambut itu pada dasarnya dapat diibaratkan sebagai salah satu spons air terbesar di muka bumi. Dalam kondisi ideal, gambut tersusun dari sisa-sisa tumbuhan yang setiap rongganya mampu menyerap air. Struktur rongganya yang besar lantas memungkinkan terbukanya sistem kapilaritas untuk menyerap dan menyimpan air hingga belasan kali lipat dari bobot keringnya. Menurut beberapa riset, sistem penyimpanan dan pengendalian air alami ini bertugas tidak hanya untuk menyediakan sumber air, tetapi juga untuk menjadi mesin uap raksasa pemicu hujan melalui kelembapan yang tercipta dalam lapisan gambut.

Kedua, gambut berperan sebagai penyangga suhu alami ekosistem. Kemampuan menyerap, menyimpan dan melepaskan air dan uap air dalam jumlah besar dinilai sebagai salah satu heatsink natural terbaik. Kandungan airnya yang tinggi membuat gambut lambat menjadi panas, dan penguapan air dari permukaannya membantu menurunkan suhu di sekitarnya. Dengan kata lain, ia bekerja seperti penyejuk alami bagi kawasan di sekitarnya. Lahan gambut yang sehat memberi kesejukan serupa, hanya dalam skala hamparan yang jauh lebih luas.

Masalahnya pada kasus karhutla ialah ketika sumber air lapisan bawah telah terkuras atau ketika adanya pembuatan kanal berlebihan, serat gambut akan mengalami fase pemadatan akibat metric suction. Meskipun terdapat suplai air yang berada jauh di bawah tanah, rongga gambut yang besar tidak akan memungkinkan sumber air sisa untuk kembali menyegarkan bagian atas hutan gambut. Dikombinasikan dengan cuaca panas El Niño, hal ini dapat membuat hutan gambut menjadi satu bak flammable material atau material mudah terbakar.

Ketiga, dan ini mungkin yang terkadang krusial tetapi sering terlewatkan, kawan UNDIRA. Selain memiliki porsi vegetasi hijau yang mampu menghasilkan oksigen, hutan gambut juga pada dasarnya merupakan jejaring perangkap karbon terbesar di dunia, loh. Di bawah lapisan hutan gambut, gas-gas seperti karbon, metana dan juga hidrogen sianida tersimpan, dan keberadaan hutan gambut ini kritikal agar gas-gas ini tidak terlepas ke atmosfer. 

Menurut UN Environmental Programme, satu lapisan hutan gambut menampung dan menahan sebanyak 450.000–650.000 megaton karbon. Sebagai sedikit insight mengenai kimia, gas karbon (C) dan gas metana (CH4) memiliki struktur yang tidak kaku, dan ketika kedua gas ini terlepas ke atmosfer dalam jumlah besar (contohnya dari lahan gambut yang terbakar dan membuka gas tersimpan dan menimbulkan asap), mereka akan berperan sebagai selimut yang mencegah panas keluar dari atmosfer Bumi. Hal inilah yang kemudian dapat memicu greenhouse effect atau efek rumah kaca dan merusak sirkulasi cuaca dalam jangka panjang.

Fenomena karhutla yang telah menelan banyak korban dan mencekik kehidupan secara membabi buta dengan rekor ispa yang telah mencapai lebih dari 280.000 kasus, membuktikan bahwa meskipun terlihat sepele dan tidak semegah hutan lainnya yang kita temui pada saat bepergian, keberlangsungan hutan gambut pada dasarnya adalah harta karun paling berharga bagi seluruh makhluk hidup.

Bumi bukan sekadar tempat kita berpijak, melainkan rumah yang kita pinjam dari masa depan. Sebagai makhluk yang dikaruniai akal dan logos, manusia memiliki kapasitas untuk menentukan arah perkembangan yang seharusnya lebih baik, bukan lebih buruk. Melihat kilas balik karhutla saat ini, lantas saatnya kita mempertanyakan; “Apakah kita adalah monster yang lebih buruk daripada ‘monster’ yang kita jumpai di hutan-hutan yang sekarang lenyap menjadi abu bersama rumahnya?” Janganlah berhenti bersuara, kawan UNDIRA, jangan bosan  menjaga, dan jangan ragu berpendapat, karena bumi yang sehat kelak akan menjadi warisan berharga bagi anak-cucu kita mendatang.

Sumber Referensi:

Global Peatlands Assessment: The State of the World’s Peatlands  - UN Environment Programme, Global Peatlands Initiative, Global Landscapes Forum Journal

Riset BRIN Ungkap Rahasia Hutan Gambut dalam Mengendalikan Hujan Tropis - Badan Riset dan Inovasi Nasional Official Website

The importance of peat for health and climate - Greenpeace Official Website

How is CO2 Warming Up The Planet? - YouTube DW Planet A Channel 

283 Ribu Kasus ISPA Tercatat di Tengah Karhutla, Waspadai Dampak Kabut Asap - Human Initiative Website

(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)

Press Contact :

Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara

humas@undira.ac.id

Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id

Lainnya

Kampus Tanjung Duren

Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1

Grogol, Jakarta Barat. 11470

Kampus Green Ville

JIn. Mangga XIV No. 3

Kampus Kranggan

Jln. Raya Kranggan, No.6,

Jatiraden, Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432