html hit counter Di Balik Percepatan Inovasi Data Center: Dilema Baru Bagi Sumber Daya Alam? - Universitas Dian Nusantara

Di Balik Percepatan Inovasi Data Center: Dilema Baru Bagi Sumber Daya Alam?

Dilihat : 11
03 Oktober 2026

Ketika kita mendengar pembahasan mengenai Data Center atau Pusat Data, pemahaman kita tidak jauh dari deretan server, kabel, dan juga lampu indikator yang berkedip di ruangan besar. Data center itu sendiri bagaikan ekosistem digital yang bertugas menyimpan dan menjaga ketersediaan informasi hingga menjalankan kecerdasan buatan (AI) tanpa jeda.

Meskipun memang benar Data Center mampu menopang hampir semua keperluan industri dan menarik minat investasi yang cukup besar, keberadaannya tidak menutup kenyataan yang jarang terlihat: bahwasanya semakin berat proses komputasi, semakin berat juga daya dan maintenance yang diperlukan untuk menjaga keberlangsungan hidup Data Center. 

Menurut kajian yang dimuat oleh International Energy Agency (IEA), konsumsi energi dari mayoritas data center di seluruh dunia berada pada kisaran 415 terawatt-jam (TWh), atau kurang lebih mengonsumsi sekitar 1,5% kapasitas pasokan listrik global (berdasarkan data yang tercatat pada tahun 2024 lalu)  dan masih terus berpotensi bertumbuh seiring implementasi Data Center yang semakin meluas di berbagai negara. Sebagai contoh langsung, Data Center milik Meta yang berada di Louisiana, Amerika, ditaksir dapat mengonsumsi pasokan listrik sebesar 7,5 gigawatt dan dinilai jauh lebih besar daripada konsumsi listrik di kota New Orleans.  

Selain memusatkan penggunaan listrik yang relatif besar, Data Center sendiri dikenal membutuhkan suplai air yang besar dan konsisten. Hal ini dikarenakan Data Center menghasilkan panas dari proses komputasi non-stopnya. Alhasil, air diperlukan untuk menjaga konsistensi suhu setiap komponen dan mesin yang ada di Data Center. Satu fasilitas Data Center skala besar sendiri diestimasi membutuhkan sekitar 19 juta liter air per hari. Dari sisi ekologis, keperluan akan air bagi Data Center juga memicu sejumlah polemik, terutama berkaitan dengan pencemaran sumber air bersih dan pengurangan ketersediaan sumber air warga sekitar. Meskipun skeptisisme terhadap pembangunan Data Center dapat ditemui di mana pun, dengan langkah yang tepat, ‘pemborosan’ yang dipicu oleh Data Center dapat diminimalisir. 

Langkah pertama ialah dengan memanfaatkan sistem Immersion Cooling Method. Bermodalkan penggunaan Dielectric Liquid (cairan yang tidak menghantarkan listrik), Data Center secara efektif direndam dalam cairan ini sehingga mampu membantu disipasi panas lebih baik sekaligus menghemat penggunaan air setempat. Hal ini karena pada dasarnya Dielectric Liquid merupakan cairan sintetis yang sama sekali tidak menggunakan air biasa sebagai bahan dasar pembuatannya. Langkah kedua adalah efisiensi dari sisi penggunaan. Data Center hanya sebesar permintaan atas komputasi. Model AI yang lebih efisien, penjadwalan beban kerja pada jam dengan pasokan energi bersih, dan penghapusan penyimpanan data yang tidak lagi dibutuhkan ikut mengurangi kebutuhan sumber daya di hulunya. Dan langkah ketiga, ialah mendorong implementasi energi terbarukan seperti penggunaan panel surya atau mengelola kembali energi termal yang dihasilkan Data Center sendiri. 

Pada akhirnya, Data Center bukanlah sekadar persoalan teknologi, melainkan juga persoalan keberlanjutan. Percepatan inovasi digital dan AI memang tidak bisa dihentikan, tetapi cara kita menopangnya masih bisa dipilih. Immersion cooling, efisiensi beban komputasi, dan energi terbarukan menunjukkan bahwa kemajuan dan kelestarian sumber daya alam tidak harus saling meniadakan. Tantangannya adalah memastikan solusi-solusi tersebut benar-benar dirancang, dibangun, dan dikelola oleh tangan-tangan yang memahaminya. 

Melalui dua konsentrasi yang saling melengkapi. Konsentrasi Elektronika dan Konsentrasi Tenaga Listrik, Program Studi Teknik Elektro Universitas Dian Nusantara (UNDIRA) senantiasa membekali mahasiswa dengan kompetensi terkini mengenai pemanfaatan, pemahaman dan optimalisasi teknologi secara mendalam. Keduanya diperkuat dengan pembelajaran intensif tentang Internet of Things (IoT), sehingga mahasiswa terbiasa membangun sistem yang mampu memantau, menganalisis, dan mengoptimalkan konsumsi energi secara cerdas dan real-time.  

Dengan bekal tersebut, lulusan Teknik Elektro diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga perancang solusi yang menjaga agar Data Center tumbuh selaras dengan kelestarian sumber daya alam.

Sumber Referensi:

Menakar Dampak Ekologis Pembangunan Data Center AI di Jatiluhur - TirtoID

Energy demand from AI - International Energy Agency (IEA)

Peran Liquid Cooling (Direct-to-Chip) dalam Mengoptimalkan Efisiensi Energi Data Center AI

(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)

Press Contact :

Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara

humas@undira.ac.id

Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id

Lainnya

Kampus Tanjung Duren

Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1

Grogol, Jakarta Barat. 11470

Kampus Green Ville

JIn. Mangga XIV No. 3

Kampus Kranggan

Jln. Raya Kranggan, No.6,

Jatiraden, Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432