html hit counter Menulis untuk Bertumbuh: Sarana Penguatan Mental dan Memperkaya Research Gap - Universitas Dian Nusantara

Menulis untuk Bertumbuh: Sarana Penguatan Mental dan Memperkaya Research Gap

Dilihat : 27
08 Juni 2026

Sebagai makhluk ciptaan terbaik Sang Pencipta, terdapat satu kehebatan yang kerap dilupakan manusia, yakni intuisi sekaligus kemampuan berpikirnya. Manusia dikaruniai lebih dari sekadar tubuh fisik semata. Faktanya, menurut berbagai jurnal kesehatan, di dalam kerangka manusia terdapat bagian otak yang disebut serebral, dan di sekitarnya bersemayam kurang lebih 86 miliar neuron yang saling terhubung, memungkinkan manusia untuk berpikir, belajar, mengingat, berkreasi, serta mengelola emosi dalam kehidupan sehari-hari, guna mendukung sisi intelektual serta emosional kita. 

Setiap detik kita selalu membangun pikiran, kesadaran, dan menciptakan memori baru yang pada akhirnya mampu menghasilkan kesadaran, logos, atau akal budi. Melalui langkah tersebut juga, lantas kita dapat menemukan diri kita dan juga mengartikan bagaimana dunia berjalan. 

Meskipun manusia memiliki daya ingat yang cukup luar biasa, dengan meningkatnya distraksi teknologis serta obligasi dunia yang menuntut kita agar dapat melakukan berbagai tugas dalam waktu singkat, akan ada celah di mana informasi yang kita tanam akan terlupakan seiring berjalannya waktu sekaligus dengan masuknya informasi baru. 

Tentu kita paham bahwa keberadaan AI mampu mempermudah tugas hingga bahkan membacakan email kita setiap harinya, namun salah satu bagian yang selalu gubriskan ialah: the creating process is the fun part. Maka dari itu, selain kita diberikan kesempatan untuk membaca (iqra) dunia, kita juga harus mendokumentasikannya melalui berbagai karya, salah satunya melalui tulisan. 

Melalui salah satu riset psikolog James Pennebreaker yang dipublikasikan American Psychological Association pada tahun 2014 lalu, menulis (khususnya expressive writing) dinilai mampu meningkatkan kepuasan diri, menurunkan stres sekaligus membuka pengalaman emosional baru bagi sang penulis sekaligus pembaca. 

Hal ini dikarenakan ketika kita menulis, otak secara otomatis dipaksa untuk menyusun narasi yang sesuai dengan intensitas emosional kita, lantas mendorong lahirnya pemahaman diri sebagai langkah awal memahami sekeliling. Narasi adalah bagaimana manusia memahami dirinya, sekaligus menciptakan identitas kolektif baru yang dapat menggugah dunia.

Dimensi lain yang dapat didapatkan melalui menulis ialah bagaimana keberadaannya mampu memperkaya relevansi akademik, memperkuat fokus dan daya pikir kita, dengan kata lain, menulis adalah mesin pengungkap celah pengetahuan. 

Di luar benefit yang telah disampaikan sebelumnya, dalam ruang lingkup akademik, tentu saja akan ada research gap yang dapat menyisakan pertanyaan tak terjawab, dan kita mengenalnya dengan istilah ‘research gap’. Research gap terkadang datang bukan dari adanya kekeliruan atau kekurangan data semata, namun juga melalui diksi atau kalimat yang dirasa belum ‘nge-click’ dengan topik pembahasan. Tidak ada cara yang lebih efektif untuk menemukan research gap selain dengan duduk, dan memaksakan diri untuk menulis.

Menulis merupakan proses berpikir nyata, dalam arti bahwa menulis tidak hanya sekadar menuangkan ide, tetapi juga bagaimana kita mengkurasikan serta menemukan informasi relevan lainnya yang belum diketahui. Selebihnya, selain membantu memecahkan research gap, spontanitas diksi yang kita keluarkan juga dapat menjadi bahan penulisan baru di kemudian hari. 

Research gap yang paling berharga tidak ditemukan dari membaca puluhan jurnal, melainkan dari momen ketika mereka mencoba menuliskan apa yang sudah mereka baca dan tiba-tiba menyadari ada yang hilang, atau ada suara yang belum pernah didengar. Menulis, dalam konteks ini, bukan hanya merekam ilmu. Ia adalah metode berpikir yang menghasilkan ilmu baru.

Kembali kepada statement kekayaan manusia melalui jaringan neuronnya, mereka yang telah bekerja keras dalam menyalurkan ide dalam format yang tidak hanya tepat, tetapi juga dapat dipahami publik adalah penghasil hidden gem di masa modern ini. Memulai dari satu kata, satu kalimat, hingga satu paragraf dapat menghantarkan kita menuju literasi yang tidak hanya berdaging, tetapi juga long-lasting, karena setiap perjalanan yang tidak dituliskan atau tidak memiliki nilai keunikan adalah pengetahuan yang mati bersama penggagasnya.

"Tulisan adalah satu-satunya keajaiban yang benar-benar ada, kata-kata yang mengubah pikiran orang."
— Terry Pratchett

Sumber Referensi:

Speaking of Psychology: Expressive writing can help your mental health, with James Pennebaker, PhD

Menulis untuk kesehatan mental: Mengajarkan esai jadi cara baru melawan ketergantungan pada AI - TheConversationID

(Kornelia Johana Dacosta / Humas UNDIRA)

Press Contact :

Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara

humas@undira.ac.id

Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id

Lainnya

Yayasan Dian Asra
Kampus Tanjung Duren

Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1

Grogol, Jakarta Barat. 11470

Kampus Green Ville

JIn. Mangga XIV No. 3

Kampus Cibubur

Jln. Rawa Dolar 65

Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432

Kampus Cibubur Kranggan Raya

Jln. Raya Kranggan, No.6, RT 006/ RW 008

Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432