AI Overuse, Era Baru Tantangan Bagi Generasi Z? Simak Penjelasan Berikut
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kini seakan telah menjadi bagian tak tergantikan dari kehidupan sosial manusia. AI dinilai tidak hanya dapat melakukan tugas dengan cepat, tetapi juga dengan efisiensi lebih tinggi, terutama mengingat manusia memiliki keterbatasan operasional biologis. AI bahkan juga dinilai mampu menjadi ‘rekan diskusi’ dan teman berbincang untuk mengisi ruang yang dulunya hanya dapat dicapai melalui interaksi antarmanusia.
Aksesibilitas sekaligus kedekatan yang diciptakan oleh AI seakan terasa kuat, khususnya bagi Generasi Z. Menurut survei yang digalang Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan dikutip pada laman RRI Indonesia, tingkat penetrasi di Indonesia pada tahun 2026 telah mencapai 81,72%, dan pengguna AI kini mencapai 18,2%, dengan mayoritas merupakan Generasi Z. Hal ini tentunya sangat wajar, mengingat Generasi Z merupakan kalangan digital native dan memiliki tingkat workload dan mobilitas relatif tinggi.
Meskipun AI memberikan sejumlah benefit yang sekiranya sangat berguna, penggunaannya tetap perlu dimonitor dan dikurasi. Tentunya kawan UNDIRA pasti sempat mendengar fenomena AI Overuse atau penggunaan AI berlebihan. Dalam berbagai studi literatur, hal ini juga dikaitkan dengan mekanisme cognitive offloading, di mana seseorang cenderung akan menggunakan banyak alat bantu untuk membantu mengelola informasi.
Ketergantungan berlebihan pada AI dinilai mampu secara perlahan menurunkan kemampuan berpikir kritis dan mandiri. Tidak hanya itu, ketergantungan pada AI juga secara berangsur-angsur dapat meningkatkan potensi kekeliruan atau misinformasi yang dapat berakibat fatal.
Dalam beberapa studi psikologis yang dimuat dalam publikasi American Psychological Association pada 1 September 2026, terdapat sebuah fenomena yang disebut AI psychosis. Fenomena yang dikutip tidak termasuk dalam bentuk diagnosis umumnya, namun berkaitan erat dengan kelakuan delusional yang timbul akibat interaksi ‘berlebihan’ dengan AI, sampai pada titik mempercayai semua nasihat yang diberikannya.
Memahami dan turut memperhatikan dampak AI overuse, Ketua Yayasan Dian Asra, Bapak Sagoro Dharmawan, S.E., menyampaikan bahwa sebagai generasi terpelajar dan berpedoman pada kaidah akademik, Generasi Z harus mampu menyeimbangkan penggunaan AI dengan bijaksana.
Dalam orasinya pada Pembukaan Perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026-2027 di Kampus Kranggan dan Tanjung Duren Universitas Dian Nusantara (UNDIRA), beliau menyoroti bahwa penting bagi generasi Z untuk senantiasa mengubah cara berpikirnya yang semula berfokus pada target-oriented semata, menjadi pola pikir process-oriented. Beliau menilai hal ini dapat mengurangi gratifikasi instan sekaligus AI Overuse.
“Percepatan teknologi, terutama dalam bidang AI sebagaimana yang kita pahami, membuka sejumlah jendela baru bagi umat manusia. Kendati demikian, keberadaannya juga menimbulkan pandangan yang bertentangan: di satu sisi, AI membuka begitu banyak peluang, tetapi di sisi lain, keberadaannya juga membawa sejumlah tantangan, salah satunya adalah AI overuse, atau kecanduan penggunaan AI. Kalau dulu kita pulang membawa pertanyaan, kini kita cenderung merasa cukup hanya dengan sebuah tanda titik pada jawaban semata.
Penggunaan AI yang berlebihan ini turut memunculkan apa yang saya sebut sebagai ilusi kompetensi, sebuah kondisi ketika informasi dan karya AI ditempatkan begitu tinggi hingga dianggap merepresentasikan kompetensi seseorang, padahal belum tentu orang tersebut benar-benar kompeten atau mampu mempertanggungjawabkan karya yang dihasilkan AI tersebut.
Untuk itu, saya ingin menyampaikan kepada teman-teman bahwa target dan nilai semata bukanlah tujuan akhir yang mutlak. Sebagai manusia, kita harus terus menuntut ilmu secara berkesinambungan. Ingatlah, AI tidak memiliki logika, intuisi, maupun empati, dan semua informasi yang disajikannya tetap bergantung pada kita manusia untuk menyempurnakan serta memberi makna, arah, dan tanggung jawab moral yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin,” ujar Bapak Sagoro Dharmawan
Fenomena AI overuse, cognitive offloading, AI psychosis, sekaligus nasihat yang diberikan Bapak Sagoro Dharmawan sekali lagi mengingatkan kita bahwasanya di tengah percepatan penggunaan AI saat ini, perlu disematkan kehadiran intuisi dan hati manusia guna menghasilkan karya yang tidak hanya bagus, tetapi juga humanis. Meskipun langkah manusia cenderung lebih kecil dibandingkan dengan mesin, jiwa dan kebijaksanaan mereka tidak dapat tergantikan.
Sumber Referensi:
Understanding “AI psychosis” - American Psychological Association
Info Keliru dari AI Nyaris Picu AS Serang Kapal China di Timur Tengah - detiknews.
Survei APJII 2026: Gen Z Pengguna AI Paling Aktif - RRI News
(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Kranggan
Jln. Raya Kranggan, No.6,
Jatiraden, Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432