html hit counter Dari Warisan Turun Temurun Sentra Kultural, Menjadi Pusat Ekonomi Kreatif: Lasem, Sebuah Cultural Heritage dan Sentra Kreativitas - Universitas Dian Nusantara

Dari Warisan Turun Temurun Sentra Kultural, Menjadi Pusat Ekonomi Kreatif: Lasem, Sebuah Cultural Heritage dan Sentra Kreativitas

Dilihat : 15
03 September 2026

Dengan era globalisasi dan industri yang semakin bertumbuh seiring perkembangan sekaligus eksposur demografi masyarakat terhadap berbagai informasi dan budaya, tentunya perekonomian dan cara masyarakat memanfaatkannya pun akan kian berubah untuk beradaptasi terhadap dinamika kebutuhan. Hal ini tentu saja sangat berkaitan dengan konsep yang dikenal sebagai ekraf atau ekonomi kreatif. 

Dalam sebuah buku monograf karya dosen Program Studi Manajemen Universitas Dian Nusantara (UNDIRA), Ibu Nur Endah Retno Wuryandari, S.Sos., M.M.,  ekonomi kreatif pada dasarnya dapat dipahami sebagai proses penciptaan nilai yang bertumpu pada ide, pengetahuan dan kreativitas manusia. Ekonomi kreatif juga memiliki ciri utama berupa dominasi aset tidak berwujud yang bernilai. 

Ekonomi kreatif tentunya tidak semata-mata ditujukan untuk membrandingkan pusat sejarah dan budaya semata, melainkan juga sebagai metode untuk merevitalisasi pertumbuhan ekonomi melalui pemanfaatan kreativitas serta modal intelektual masyarakat. Hal ini tentunya sejalan dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2019 Pasal 1 tentang siklus penciptaan dan distribusi kreativitas dan modal intelektual. Laporan Creative Economy Outlook pada tahun 2024 juga menekankan bahwa ekonomi kreatif merupakan salah satu katalis paling berpengaruh dalam menumbuhkan perekonomian dan memperkaya keanekaragaman perdagangan. 

Beranjak dari pemahaman ekonomi kreatif, salah satu oasis ekonomi kreatif dapat ditemukan di salah satu kota pesisir di Jawa Tengah, yakni Lasem. Dikenal sebagai saksi bisu pertemuan dua demografi etnis besar, yakni Jawa dan Tionghoa, Lasem, yang juga dijuluki sebagai “Tiongkok Kecil”, merupakan kawasan penghasil berbagai ragam budaya dan kekayaan lokal melalui perpaduan antaretnisnya tersebut. 

Menurut kajian monograf terkait ekonomi kreatif Ibu Endah Retno Wuryandari, potensi Lasem sebagai salah satu sentra ekonomi kreatif terletak pada manajemen warisan budaya lokalnya yang dapat diolah menjadi berbagai nilai tambah ekonomi tanpa harus melepaskan dimensi historis dan identitasnya. Hal ini dapat terpampang melalui berbagai warisan budaya yang dapat berwujud benda, seperti beberapa peninggalan sejarah kawasan Lasem, sedangkan dari perspektif warisan tak benda dapat dilihat dari folklor yang diceritakan secara turun-temurun dari Lasem, sekaligus kearifan batik lokal Lasem, dengan motif burung Hong sebagai bentuk daya tarik marketing heritage antaretnis sekaligus penguat kawasan Lasem sebagai cultural intersection yang harmonis. 

Sebagai pelengkap, posisi geografis Lasem di jalur Pantura, di antara Semarang dan Surabaya, menjadi cherry on top yang menyatukan seluruh potensi tersebut. Sejak masa Majapahit, Lasem memiliki dua pelabuhan utama, Regol dan Kaeringan (atau disebut Kairingan), yang menghubungkan pedagang Tiongkok, Arab, dan Eropa melalui Sungai Lasem dan Babagan. 

Warisan konektivitas ini berlanjut lewat jalur Pantura modern yang memudahkan akses dari kota-kota besar, diperkaya oleh lanskap pantai Karang Jahe dan Caruban serta perbukitan Watu Layar, menjadikan Lasem tidak hanya mudah dijangkau tetapi juga kaya akan variasi wisata bagi berbagai segmen wisatawan.

Sinergi batik, arsitektur, dan geografis inilah yang membawa Lasem bertransformasi dari sentra kultural warisan turun-temurun menjadi pusat ekonomi kreatif yang berkelanjutan, sebagaimana diulas dalam monograf Ibu Nur Endah Retno Wuryandari, dengan catatan pengelolaannya tetap membutuhkan kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat setempat agar nilai historisnya tetap terjaga.

Pada akhirnya, sekilas kisah Lasem yang tertuang melalui karya monograf Ibu Nur Endah Retno Wuryandari mengajarkan bahwa warisan budaya bukanlah artefak beku yang hanya pantas dikenang, melainkan napas yang terus menghidupi eksistensi dan identitas sebuah masyarakat lintas generasi. Batik dengan motif akulturasinya, arsitektur kelenteng dan rumah-rumah tua di sepanjang pesisir, hingga folklor yang diwariskan dari mulut ke mulut, semuanya adalah denyut yang menegaskan siapa masyarakat Lasem dan dari mana mereka berasal. 

Ketika denyut ini dikelola dengan bijak melalui kacamata ekonomi kreatif, heritage tidak lagi sekadar menjadi objek nostalgia, tetapi bertransformasi menjadi modal intelektual yang produktif, memberi nilai tambah ekonomi tanpa harus mengorbankan jiwa historisnya. Inilah esensi sejati ekonomi kreatif: bukan mengeksploitasi masa lalu, melainkan merawatnya agar tetap bernapas di tengah arus zaman yang terus bergerak.

Sumber Referensi:

Wuryandari, N. E. R., Purwanto, S., Perkasa, D. H., & Arijanto, A. (Tahun). Lasem: Ekonomi kreatif dan cultural heritage marketing: Strategi pemasaran warisan budaya berbasis batik, kuliner, maritim, komunitas, dan pariwisata berkelanjutan. Nama Penerbit. 

(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)

Press Contact :

Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara

humas@undira.ac.id

Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id

Lainnya

Kampus Tanjung Duren

Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1

Grogol, Jakarta Barat. 11470

Kampus Green Ville

JIn. Mangga XIV No. 3

Kampus Kranggan

Jln. Raya Kranggan, No.6,

Jatiraden, Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432