Menjawab Tantangan Logistik Antarpulau, Seberapa Efektif Ferry Ro-Ro sebagai Alternatif Tol Laut?
Ekosistem perekonomian Indonesia kini memasuki babak baru. Jejaring ekspor-impor yang kian terbuka bagi pelaku usaha, baik skala kecil maupun besar, membuat pertumbuhan ekonomi tidak lagi terpusat di kawasan-kawasan utama seperti Pulau Jawa dan Sumatera.
Nusa Tenggara Timur (NTT) sesungguhnya memiliki potensi besar untuk menopang perekonomian nasional melalui sektor perikanan, pariwisata, pertambangan, dan peternakan. Namun, inflasi yang mendorong kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok, ditambah ketatnya persaingan pangsa pasar di pusat-pusat kepadatan penduduk Indonesia, membuat disparitas produk lokal semakin melebar.
Berangkat dari kondisi tersebut, dosen Program Studi Manajemen Universitas Dian Nusantara (UNDIRA), Ibu Nur Endah Retno Wuryandari, S.Sos., M.M., bersama sejumlah perwakilan akademik dari Politeknik Transportasi Darat Indonesia dan Politeknik Ilmu Pelayaran Indonesia, melakukan analisis dan studi banding untuk menilai efektivitas Ferry Ro-Ro sebagai alternatif program Tol Laut bagi pelaku usaha lokal, sekaligus mengevaluasi program yang selama ini dijalankan pemerintah daerah setempat.
Analisis ini mencakup sejumlah dimensi, mulai dari; proses logistik, pembiayaan logistik, rantai pasok supply-demand, hingga studi banding harga antara penggunaan Tol Laut dan Ferry Ro-Ro. Hasilnya diharapkan dapat menunjukkan sekaligus mempromosikan potensi rute Jangkar-Kupang sebagai penghubung jalur perdagangan Jawa Timur dan NTT, sekaligus mendorong kolaborasi dengan pemerintah daerah agar distribusi kargo Tol Laut dapat lebih terkontrol hingga ke tangan pengguna akhir (end-user).
Secara metodologis, kajian ini menggunakan pendekatan campuran (mixed method) yang memadukan metode kualitatif dan kuantitatif melalui focus group discussion (FGD). Pengambilan data dilakukan langsung di Kupang, NTT, dengan cakupan wilayah hinterland Pulau Timor, selama kurang lebih dua tahun (2022–2024).
Hasil riset menunjukkan bahwa kondisi pasokan NTT bersifat beragam. Sejumlah komoditas seperti cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging sapi, ayam, bawang bombai, dan jagung memiliki surplus dan berpotensi menjadi muatan balik, sedangkan beras, kedelai, minyak sawit, gula, tepung, dan telur masih mengalami defisit.

Temuan riset pada akhirnya menunjukkan bahwa penetrasi pangsa pasar tidak hanya berdasarkan jejaring yang terbentuk. Sejumlah faktor lainnya seperti mekanisme return cargo, adaptasi warga dalam menentukan rasio konsumsi dan hasil sumber daya setempat, dan pemilihan jalur antarmoda yang optimal turut memungkinkan daya jangkau produksi lokal untuk dapat dipasarkan ke wilayah lain.
Simulasi trade route memperlihatkan potensi peningkatan market size kargo Tol Laut dari sekitar 19% menjadi 32%. Frekuensi pelayaran juga berpeluang meningkat menjadi 2–3 kali per bulan, dibandingkan dengan layanan kapal kontainer Tol Laut yang secara umum hanya sekitar satu kali per bulan. Dengan distribusi point-to-point, jumlah transshipment berkurang, biaya logistik berpotensi ditekan, dan akses menuju hinterland menjadi lebih efektif.
Namun, riset juga menegaskan bahwa Ferry Ro-Ro bukan pengganti mutlak kapal kontainer. Implementasinya masih menghadapi tantangan, termasuk keterbatasan reefer plug, penyesuaian proses loading-unloading, serta kebutuhan harmonisasi regulasi dan koordinasi antarlembaga. Karena itu, pengembangan logistik center terpadu, penguatan peran UMKM sebagai reseller di hinterland, serta pengawasan distribusi hingga kepada para pelanggan menjadi faktor penting. Penelitian juga menunjukkan bahwa segmentasi pasar berdasarkan wilayah dapat membuka potensi penetrasi kargo Tol Laut hingga 58–77% pada area sasaran.
Ferry Ro-Ro menawarkan alternatif yang lebih sering, point-to-point, dan berpotensi memperluas jangkauan pasar Tol Laut sekaligus membuka arus perdagangan dua arah antara Jawa Timur dan NTT. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Evergreen ini menjadi bukti bahwa inovasi akademik dapat diterjemahkan menjadi strategi nyata bagi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Penelitian yang terindeks Scopus Q3 sekaligus telah terinput dalam Kyushu University Institutional Repository sesuai pemetaan SCImago Journal and Country Rank ini merefleksikan komitmen dunia akademik untuk menghadirkan solusi berbasis riset demi menyejahterakan perekonomian dan dunia bisnis melalui pemantapan strategi logistik yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan.
Dengan mempertemukan data, inovasi transportasi, kebijakan, dan kebutuhan pelaku usaha, penelitian semacam ini dapat menjadi pijakan bersama untuk membangun konektivitas antarpulau yang tidak hanya menghubungkan wilayah, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi yang lebih merata, sekaligus menjadi dorongan agar sinergi antara dunia akademik dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) semakin erat, sehingga hasil riset dapat diimplementasikan secara nyata dalam praktik bisnis dan kebijakan industri demi perekonomian yang lebih maju.
Sumber Referensi:
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Lainnya
Mendorong Semangat Kewirausahaan Dalam Industri 5.0: UNDIRA Bersama AyoKreasi Gelar Seminar Techpreneurship
Read more
Langit Surga Terbuka Untuk-Nya, Bukit Zaytun Menjadi Bukti Sejarah Kenaikan-Nya - Pesan Kenaikan Yesus Kristus Untuk Menjadi Pribadi Visioner
Read more
Membuka Jendela Budaya dan Sosial: Mahasiswa Sastra Inggris UNDIRA Berkunjung ke Kedubes AS
Read more
Yayasan Dian Asra
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Cibubur
Jln. Rawa Dolar 65
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432
Kampus Cibubur Kranggan Raya
Jln. Raya Kranggan, No.6, RT 006/ RW 008
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432