Kecepatan dan Ketepatan Pers di Era Modern
Informasi merupakan salah satu aset yang bernilai, terutama mengingat digitalisasi memungkinkan berbagai informasi untuk dikirimkan secara instan kepada perangkat kita. Namun ditengah kedatangan berbagai informasi, kita juga ditantang oleh adanya praktik misinformasi seperti penyebaran hoax.
Maka dari itu kawan UNDIRA, Hari Pers Nasional pada tanggal 9 Februari 2026 sekali lagi berfungsi sebagai memo bagi kita semua untuk melihat kilas balik sekaligus inti sari dari Pers sebagai penyebar informasi yang tidak anya tepat namun juga akurat.
Pers sejatinya telah ada di Indonesia semenjak masa penjajahan Belanda di tahun 1744 melalui surat kabar bertajuk "Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnement" atas kehendak Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff.
Memasuki tahun 1907 “Medan Prijaji” dicetuskan oleh Tirto Adhi Soerjo sebagai pelopor pers nasional, dan pada akhir tahun 1945, kekuatan pers nasional memiliki pondasi yang kokoh melalui kehadiran “Soeara Merdeka” dan “Berita Indonesia” sebagai media pers formal yang dipercaya rakyat Indonesia. Pada tahun 1945-1946 ekosistem pers Indonesia telah memasuki fase ‘matang’, dimana lembaga seperti RRI dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) didirikan.
Namun kebebasan untuk berpendapat sendiri melalui pers masih terbilang sangat terbatas, hingga pada akhirnya sesuai dengan keputusan Presiden Soeharto - Keppres No. 5 Tahun 1985, pers akhirnya diakui sebagai kanal strategis dalam pembangunan bangsa Indonesia.
Merujuk pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Pasal 3, fungsi pers sendiri adalah sebagai satuan penyalur informasi nasional sekaligus berfungsi sebagai lembaga ekonomi, penyampaian aspirasi serta pendukung demokrasi melalui kebebasan dan partisipasi aktif masyarakat untuk berpendapat.
Saat ini dengan adanya media sosial yang menawarkan “gratifikasi instan” beserta kurangnya kepakaran dan keinginan untuk mendalami ilmu lebih jauh, maka orang awam-pun dapat menyebarkan misinformasi dengan mudah dengan hanya modal percaya diri. Selebihnya, komodifikasi fenomena viral kini juga membuat publik terlena dari “the bigger picture” atau scope yang lebih besar dari apa yang sebenarnya terjadi dibalik layar.
Kehadiran pers ditengah era digitalisasi dan trend modern berfungsi sebagai tulang punggung distribusi informasi yang tidak hanya cepat namun juga aktual dengan menghadirkan sumber yang kredibel.
Tahun 2026 ini, dengan merujuk pada tema resmi yang ditetapkan oleh Persatuan wartawan Indonesia “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”, kini pers Indonesia memainkan peran strategis tidak hanya dalam menyebarkan informasi, namun juga dalam mensejahterakan masyarakat melalui diseminasi mendetail sekaligus memperluas minat masyarakat dalam mempelajari berbagai seluk beluk fenomena yang ada disekitar kita terlebih lagi dengan Globalisasi dan Geopolitik yang menuntut kita untuk lebih peka terhadap perubahan informasi.
Pers dan dunia akademik merupakan dua sistem yang saling mendukung pada saat ini. Ekosistem akademik berperan sebagai penghasil ilmu dan riset secara metodikal, lalu ruang pers kemudian menjembatani hasil riset akademik melalui forum publik. Hal ini tentunya dengan mengingat bagaimana sebuah riset perlu diterjemahkan menjadi informasi yang mudah dicerna. Keberadaan pers tidak hanya mendukung kebenaran, namun juga mengasah rasa penasaran kita dalam berfikir lebih jauh dikemudian hari.
Sumber Referensi:
Sejarah Hari Pers Nasional dan Tema Tahun 2026 - MetroTV News
Ketika publik tak lagi percaya ahli, bagaimana memulihkan Indonesia dari krisis kepakaran?
(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Cibubur
Jln. Rawa Dolar 65
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432