Menipisnya Emansipasi Literasi Buku Generasi Z: Sebuah Analisis Fenomena

13 Juni 2024

Generasi Z yakni sekumpulan orang yang lahir pada kurun waktu 1997-2012 merupakan generasi yang termasuk ulet dalam mengayomj beberapa keahlian dalam era dunia industri 4.0. Generasi Z mempunyai talenta dalam beberapa hal seperti penguasaan teknologi, keuletan dalam berbicara persuasi-negosiasi, dan lain-lain. Namun dengan banyaknya faktor eksternal seperti tuntutan waktu kerja dan kebutuhan bersosial, membuat mayoritas Generasi Z kurang berminat menginvestasikan waktunya pada membaca buku terutama buku non-fiksi. 

Generasi Z mengalami penurunan minat baca buku non-fiksi karena berbagai faktor yang berkaitan dengan perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup. Kehadiran perangkat digital seperti smartphone dan tablet telah mengalihkan perhatian mereka dari buku fisik ke konten digital yang lebih mudah diakses dan dikonsumsi. 

Faktor kurangnya waktu bagi Generasi Z untuk mencerna konten buku bacaan menjadi salah satu alasan mengapa mereka lebih mencari preferensi bacaan yang menghemat waktu. Hal ini dikarenakan beberapa buku mempunyai bahasan yang terlalu dalam ataupun mempunyai bagian bab dan sub-bab yang kompleks sehingga dianggap memakan waktu. Terlebih lagi dengan workaholic culture yang dimiliki pekerja Generasi Z yang lebih memilih mencari posisi dan cuan dibandingkan mencari self discovery dan wisdom. 

Salah satu alasan lain yang merupakan lanjutan dari workaholic culture mengapa Generasi Z sudah merubah haluan membaca buku non elektronik, adalah penerapan budaya ‘Crunch Culture’. Menurut salah satu penelitian publik yang dilakukan igda.org, Crunch Culture merupakan budaya kerja yang diterapkan oleh suatu perusahaan yang menuntut pekerja untuk melakukan overtime atau lembur. Dengan adanya budaya Crunch Culture maka jam aktifitas seseorang untuk melakukan kagiatan self discovery seperti melalui buku atau melihat art galery akan terpotong. 

Dalam penelitian yang dipubliaksikan oleh Evan Robinson, dijelaskan bahwa produktivitas pekerja jika ditempa dengan kegiatan yang berlangsung dengan tekanan berlebih dalam kurun waktu lebih dari total 40 jam, maka akan terjadi penurunan produktivitas kerja. Hal ini mempunyai korelasi dengan adanya penurunan fungsi kognitif yang berperan dalam decision making dan pengelolaan kehidupan pribadi, walaupun adanya kelancaran kerja. Hal ini secara tidak langsung berdampak pada penurunan emansipasi membaca karena jika seseorang membaca pengetahuan diluar yang dibutuhkan kerja, maka akan dianggap berpotensi mengecohkan kinerja kerja. 

Konsep lembur atau kerja overtime dapat mengganggu minat baca buku seseorang karena waktu dan energi yang seharusnya bisa digunakan untuk kegiatan membaca terpakai untuk menyelesaikan pekerjaan tambahan. Jam kerja yang panjang sering kali menyebabkan kelelahan fisik dan mental, sehingga setelah seharian bekerja, seseorang mungkin merasa terlalu lelah untuk membuka buku dan fokus pada bacaan yang membutuhkan konsentrasi. Selain itu, waktu luang yang terbatas akibat lembur membuat kegiatan membaca menjadi prioritas yang lebih rendah dibandingkan aktivitas relaksasi lain yang dianggap lebih cepat dan mudah dilakukan, seperti menonton televisi atau berselancar di media sosial. Akibatnya, kebiasaan membaca menjadi terpinggirkan dan minat baca pun semakin menurun. Selain itu, platform media sosial dan aplikasi hiburan menyediakan informasi dan hiburan dalam bentuk yang lebih singkat dan menarik, sehingga mengurangi waktu dan minat mereka untuk membaca buku yang lebih panjang dan mendalam. Kemudahan akses terhadap video, podcast, dan artikel singkat juga berkontribusi pada penurunan minat baca buku non-fiksi, karena informasi yang sama dapat diperoleh dengan cara yang dianggap lebih efisien dan kurang membosankan bagi mereka.

Social media secara tidak langsung dapat menimbulkan efek kecanduan psikologis manipulatif yakni, Attention Deficit Disorder. Attention deficit disorder yang dipicu oleh penggunaan media sosial dapat mengurangi minat baca Generasi Z karena platform tersebut mendorong konsumsi informasi yang cepat dan singkat, yang bertolak belakang dengan kebutuhan konsentrasi dan kesabaran dalam membaca buku. Kebiasaan ini mengurangi kemampuan dan keinginan Generasi Z untuk terlibat dalam aktivitas yang memerlukan fokus jangka panjang, seperti membaca buku yang lebih panjang dan kompleks. Akibatnya, buku, terutama yang membutuhkan pemahaman mendalam seperti non-fiksi, menjadi kurang menarik bagi mereka yang terbiasa dengan aliran informasi yang terus-menerus dan instan dari media sosial.

Maka dari itu diperlukan adanya konsep penerapan self care dan self boundary dari media sosial, paparan gadget yang memecahkan fokus kepada membaca, dan menemukan work life balance agar tercapainya waktu untuk membaca buku merupakan tantangan bagi Generasi Z terlebih lagi untuk mahasiswa UNDIRA yang sedang mengerjakan tugas akhir mereka. Karena sebuah pembelajaran dengan buku adalah sumber yang menyediakan metode belajar terfokus tanpa adanya distraksi seperti pop up advertisement ataupun chat sosial media.

(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)

Press Contact :

Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara

humas@undira.ac.id

Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial

www.undira.ac.id

Lainnya

Kampus Tanjung Duren

Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1

Grogol, Jakarta Barat. 11470

Kampus Green Ville

JIn. Mangga XIV No. 3

Kampus Cibubur

Jln. Rawa Dolar 65

Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432