Reverse Engineering: Sebuah Perspektif dalam Melihat Peluang Aksesibilitas Riset, Penelitian, dan Inovasi
Bayangkan kawan UNDIRA memainkan suatu video game, dan pada titik tertentu kalian sangat penasaran, lalu membongkar dan meneliti keseluruhan aset visual, database, hingga bahkan kode sumber-nya tanpa memahami cara kerja, logika perancangan, dan juga dokumen rancangan aslinya. Dari titik itu, kalian dapat hanya membongkar dan mereplikasi game tersebut, atau kalian dapat mengembangkan lebih jauh game tersebut dengan memberikan beberapa fitur baru yang tidak ada sebelumnya. Yup, selamat, pada titik ini kalian telah melakukan reverse engineering atau rekayasa balik.
Dalam reverse engineering, seorang periset dapat menggunakan berbagai teknik sesuai bidangnya masing-masing. Dimulai dari pengamatan, di mana kita mengumpulkan informasi mengenai objek melalui dekonstruksi setiap bagiannya, lalu diikuti dengan studi dan pemahaman setiap bagian komponen, dan diakhiri dengan adanya rekonstruksi untuk membandingkan hasilnya terhadap invensi asli.
Menurut Chikofsky dan Cross (1990), metode reverse engineering merupakan sebagian proses mengenali komponen dan mekanisme suatu konsep beserta korelasi antar komponennya, untuk kemudian disajikan kembali dalam bentuk serupa atau dalam bentuk lain dengan tingkat performa lebih baik.
Reverse Engineering juga tidak terbelenggu pada satu bidang studi saja, kawan UNDIRA. Di sektor manufaktur, teknisi akan memindai suku cadang mesin yang sudah tidak diproduksi, lalu memodelkannya ulang menggunakan CAD dengan harapan dapat mempelajari dan membuat versi baru yang lebih optimal. Industri elektronik membongkar produk pesaing untuk membandingkan desain dan biaya. Reverse engineering juga dapat ditemui pada keilmuan ekonomi dan bisnis melalui analisis produk dan pembelajaran algoritma pasar.
Chikofsky dan Cross juga merumuskan bahwa terdapat enam tujuan utama mengapa reverse engineering perlu dilakukan;
-
Mengatasi Kompleksitas: Membantu manusia memahami sistem yang terlalu rumit atau memiliki tingkat perancangan yang terlalu besar. Hal ini sejalan dengan prinsip reverse engineering pertama, yaitu mendorong dekonstruksi terlebih dahulu lalu dibarengi dengan pemahaman setiap segmentasi komponen.
-
Menghasilkan Sudut Pandang Berbeda: Chikofsky dan Cross juga menyoroti bagaimana reverse engineering berfungsi sebagai penyedia pandangan baru. Hal ini dapat dilihat ketika kita membedah suatu produk untuk mengungkap logika pencetus karya tersebut, yang kemudian diharapkan mampu membentuk perspektif baru untuk kita.
-
Memulihkan Informasi yang Hilang: Beberapa karya atau invensi terkadang telah hanyut dalam aliran waktu. Reverse engineering dapat membantu restorasi invensi bagi risetur dengan cara mempelajari, menganalisis, dan merekonstruksi karya yang masih memiliki bukti fisik. Dengan kata lain, reverse engineering digunakan untuk mengungkap desain dan prinsipil kerja karya yang tidak terdokumentasi atau terlupakan.
-
Mendeteksi Kegagalan dan Merancang Produk Lebih Baik: Ketika seorang periset membongkar satu per satu invensi lama, akan ada kemungkinan untuk ditemukannya fitur tersembunyi atau bahkan kesalahan perangkat (bug), yang kemudian menjadi ladang pengembangan dan penelitian lebih lanjut.
-
Memfasilitasi Penggunaan Kembali: Reverse engineering berpotensi membantu identifikasi komponen lama yang masih memiliki kegunaan untuk dikembangkan kembali (reusable components) dalam proyek baru.
Bagi dunia riset dan inovasi, reverse engineering membuka potensi yang sering terlewatkan. Dengan memahami lalu memodifikasi apa yang sudah ada, kebaruan bisa tumbuh dari konteks penerapan yang berbeda, dari perbaikan, atau dari penggabungan gagasan lama dengan cara baru. Schumpeter (1934) memandang inovasi sebagai kombinasi baru dari unsur-unsur yang sudah ada, dan rekayasa balik membantu kita menemukan unsur-unsur itu.
Meski begitu, kemudahan akses tidak boleh membuat kita abai pada integritas. Reverse engineering yang sehat berhenti pada memahami dan mengembangkan, bukan menjiplak. Maka pertanyaan reflektifnya bukan lagi “apakah ini benar-benar baru?”, melainkan “apa yang kita pelajari, dan apa yang bisa kita tambahkan?” Barangkali di situlah kedewasaan riset diuji: pada kesediaan belajar dari karya orang lain, mengakuinya dengan jujur, lalu menyumbangkan sesuatu yang membuat ilmu pengetahuan lebih terbuka bagi siapa saja.
Sumber Referensi:
T2Informatics - What is Reverse Engineering
Dr Josh Stroschein - The Cyber Yeti YouTube Channel - Intro to RE
Trust Component - Reverse Engineering: What It Is and How It Works
(Bapak Arie Pangesti Aji - Danang Respati Wicaksono / UNDIRA)
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Kranggan
Jln. Raya Kranggan, No.6,
Jatiraden, Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432