Pemanfaatan Material Ramah Lingkungan Dalam Penguatan Struktur Tanah, Memang Bisa? Simak Riset Dosen Teknik Sipil UNDIRA Berikut
Pemanfaatan sekaligus efisiensi produksi material kini menjadi fokus yang dikerahkan berbagai sektor industri guna menanggulangi beban biaya yang dikerahkan maupun memudahkan proses pengerjaan konstruksi dan penguatan struktur tanah.
Dalam konteks efisiensi dan pemanfaatan material, mayoritas konstruksi saat ini memilih menggunakan beton atau Polyester dan Polipropilena, karena tidak hanya mereka mudah digunakan, tetapi mereka juga menawarkan aksesibilitas material yang mampu dijangkau dalam pangsa pasar, mudah dipahami dan terpercaya mekanismenya oleh banyak individu atau dibiayai baik pra atau post production.
Namun dibalik segelintir kedua bahan tersebut dinilai kurang ramah terhadap lingkungan oleh berbagai pakar ahli sipil. Menurut salah satu dosen Universitas Dian Nusantara (UNDIRA), ibu Era Agita Kabdiyono, M.T., meskipun di satu sisi beton memang merupakan mayoritas material primadona yang dipilih dalam pengerjaan berbagai proyek konstruksi, namun bahan dasar beton sendiri yang terdiri dari semen, dinilai kurang ramah lingkungan pada masa fase produksinya.
“Produksi semen menghasilkan kurang lebih 7-8% Karbondioksida (CO2) dari total emisi global. Hal tersebut terjadi karena adanya proses kimia (Kalsinasi) pada pemanasan batu kapur (CaCO3) dan konsumsi energi fosil untuk pembakaran klinker (Calciner) dan Suspension Preheater yang mampu mencapai panas lebih dari 800’C.” ujar beliau.
Di sisi lain, penggunaan campuran Polyester dan Polipropilena meskipun memiliki biaya produksi yang tidak relatif mahal, mereka cenderung memiliki bahan dasar yang sulit terurai dan memiliki tingkat daur ulang yang dinilai rendah.
Sebagai substitusi atau pengganti material diatas, maka dalam disertasinya, ibu Era Agita Kabdiyono turut mengajukan salah satu inovasi material dalam menguatkan konstruksi tanah berupa Abu Daun Bambu atau Bamboo Leaf Ash (BLA). Menurut beliau Abu yang dihasilkan dari pengolahan Daun Bambu dapat dijadikan limbah agroindustri pozzolan yang dapat berfungsi sebagai stabilizer struktur tanah.
Sebagai konteks, limbah pozzolan sendiri merupakan hasil processing dari Daun Bambu yang cenderung memiliki sifat lebih ramah lingkungan dikarenakan menghasilkan gas emisi karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan proses pengolahan batu kapur. Selain itu, dalam segi maintenance limbah pozzolan hasil BLA juga memiliki ketahanan yang berkelanjutan.
“Abu Daun Bambu (BLA) merupakan produk limbah agroindustri pozzolan ramah lingkungan yang dihasilkan dari pembakaran daun bambu, yang umumnya sebesar 20-30% digunakan sebagai pengganti semen atau stabilizer struktur tanah.” ujar Ibu Era Agita.
“Nah, BLA ini jika dilihat secara mikroskopis memiliki senyawa kimia yang sama seperti semen, yakni Silika yang berfungsi mengikat kerikil, pasir dan air sehingga mampu menghasilkan pengikat yang memiliki kekuatan setara dengan semen. Ketika Daun Bambu itu dibakar pada suhu 700 s.d 800’C, maka ia akan menghasilkan abu Silika dan ketika kita saring akan menjadi material semen alami.” lanjut beliau.
From nature, for us all - dari yang awalnya merupakan tumpukan limbah organik berupa daun bambu yang pada awalnya tidak dilirik, kini telah terbukti oleh riset Ibu Era Agita Kabdiyono, M.T., dapat menjadi salah satu material dengan tingkat komodifikasi yang tinggi bagi masyarakat.
Penelitian Ibu Era Agita Kabdiyono sekali lagi menegaskan bahwa dalam dunia Teknik Sipil, kita tidak hanya dibentuk menjadi seorang arsitek yang berlandaskan by standards or by the book saja, tetapi seorang ahli sipil juga merupakan pakar yang mampu memecahkan dan menawarkan solusi berkelanjutan berkesinambungan terhadap peradaban manusia serta ekosistem alam.
Teknik Sipil UNDIRA turut serta berkomitmen sebagai solusi kawan UNDIRA untuk mempelajari seluk-beluk ketahanan bangunan, optimalisasi konstruksi, serta menganalisis berbagai elemen dan sistem terkait tata kelola ekosistem perkotaan menggunakan alat pokok analitis, komputasional sekaligus eksperimen untuk membangun praktisi yang unggul, kokoh dan mampu menjawab tantangan profesinya.
Sumber Referensi:
#TipsTipisTipis - Ibu Era Agita Kabdiyono: Memanfaatkan Material Ramah Lingkungan Bamboo Leaf Ash, untuk Memperbaiki Kekuatan Tanah - Instagram UNDIRA
#TipsTipisTipis - Ibu Era Agita Kabdiyono: Memanfaatkan Material Ramah Lingkungan Bamboo Leaf Ash, untuk Memperbaiki Kekuatan Tanah - YouTube UNDIRA
(Danang Respati Wicaksono / Humas UNDIRA)
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Lainnya
Yayasan Dian Asra
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Cibubur
Jln. Rawa Dolar 65
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432