Seminar: Membangun Nasionalisme Pemuda di Media Sosial

“Semua hubungan di media sosial adalah palsu menurut Wright & Severin” begitulah pesan yang di sampaikan oleh Alfi Syafii seorang dosen Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara dalam materinya di depan peserta seminar Media Sosial dan  Nasionalisme Pemuda.

Kegiatan yang dipanitiai oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara (UNTARA) tersebut diselenggarakan di gedung UNTARA pada hari Sabtu 10/12 pukul 09.00 – 13.00 WIB. Seminar yang bertemakan “Sosial Media dan Nasionalisme Pemuda” ini mengundang dua pembicara yaitu Alfi Syafii S.Sos, M.Ikom dan juga Bantors Sihombing S.Sos, M.Si dari harian Sinar Indonesia Baru.

Seminar yang berlangsung selama kurang lebih 4 jam tersebut dihadiri oleh para mahasiswa dari berbagai jurusan dan perguruan tinggi yang ada di kota Medan seperti Universitas Darma Wangsa, Universitas Darma Agung, Mikroskil, Universitas Sari Mutiara, dan masih banyak lagi.

Acara ini diadakan dengan tujuan untuk memberikan literasi mengenai penggunaan sosial media secara bijak kepada seluruh remaja khususnya mahasiswa kota Medan. Fadillah selaku ketua panitia seminar mengungkapkan “kegiatan ini sebenarnya juga bagian dari tugas akademik. Jadi kami mahasiswa semester lima diharuskan untuk membuat sebuah kegiatan. Seminar ini sendiri fokus membahas bagaimana media sosial memiliki dampak yang besar jika kita tidak menggunakannya dengan baik,” ungkapnya.

Alfi Syafii salah satu pemateri seminar mengatakan bahwa media sosial memiliki fungsi yang baik dan juga buruk. Fungsi positif dari media sosial diantaranya sebagai media pengawasan, memberi informasi dan berita. Media sosial bisa juga difungsikan sebagai media untuk transmisi budaya. Dalam hal ini orang-orang bisa dengan mudah mengajari dan belajar mengenai budaya baru, yang terakhir tentunya media sosial merupakan sebuah hiburan bagi penggunanya.

Media sosial juga memberikan disfungsi kepada penggunanya. Contohnya media sosial bisa menjadi tempat terciptanya kejadian-kejadian palsu serta mengurangi hubungan antar pribadi seseorang kepada orang lain. Selain itu, karena begitu sibuknya orang-orang mencari hiburan, mereka bisa melupakan dan tidak mempedulikan lingkungan sekitarnya.

Bantors Sihombing juga menjelaskan “kebebasan dalam berekspresi juga ada batasnya. Bebas bukan berarti kita melanggar semua batasan yang ada atau tidak memiliki batasan. Disaat kita menyuarakan hak kita, kita harus menyadari bahwa ada hak orang lain juga yang menjadi batasan kebebasan berekspresi kita. Jadi kita juga harus bisa memperhatikan hal tersebut,” jelasnya.

Seminar tersebut ditutup dengan sesi tanya jawab dan juga pembagian hadiah bagi peserta seminar yang memberikan pertanyaan dan juga yang berhasil menjawab pertanyaan yang di lemparkan oleh panitia. Ada juga pembagian hadiah bagi status media sosial terbaik mengenai kegiatan selama seminar berlangsung.

SILAHKAN BERTANYA



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*